• Legenda Poster Cafe: Kawah Candradimuka Musik Independen Jakarta (1995–2025)
    Jika CBGB di New York adalah rahim bagi Punk, maka Poster Cafe adalah rahim bagi skena musik independen (Indie) Jakarta. Terletak di area Museum Satria Mandala, Gatot Subroto, tempat ini bukan sekadar kafe, melainkan inkubator subkultur paling liar yang pernah ada di sejarah musik modern Indonesia.

    1. Kejayaan di Bawah Bayangan Tank (1996–1999)
    Poster Cafe mencapai puncak kejayaannya di paruh kedua dekade 90-an. Ironi terbesar tempat ini adalah lokasinya: sebuah sarang pemberontakan anak muda yang berada di kompleks museum militer Angkatan Bersenjata.

    Di sinilah Indie Scene Jakarta menemukan bentuknya. Poster Cafe menjadi rumah bagi berbagai faksi musik yang saat itu belum dilirik industri mayor: Britpop, Ska, Punk, dan Hardcore. Acara-acara legendaris seperti "Parklife" atau "Subnormal" menjadi ritual akhir pekan.

    Band-band yang kini berstatus legenda memulai karir mereka di panggung kecil, panas, dan penuh asap rokok ini. Naif, Rumahsakit, Waiting Room, Clubeighties, hingga Jun Fan Gung Foo adalah alumni "Universitas Poster". Di sini, Rumahsakit dipuja layaknya The Stone Roses lokal, sementara Waiting Room menjadi jembatan antara anak Ska dan Hardcore melalui transisi genre mereka.

    2. Benturan Subkultur dan Fashion
    Poster Cafe bukan hanya soal musik, tapi juga fashion statement. Di era ini, gaya Mods (parka, vespa), Skinhead (boots, braces), dan Punk berbaur. Seringkali percampuran ini memicu gesekan. Perkelahian antar-geng atau keributan di moshpit adalah pemandangan biasa.

    Menurut Wendi Putranto (jurnalis musik senior), Poster Cafe adalah tempat di mana validasi didapatkan. Jika sebuah band bisa menaklukkan panggung Poster tanpa dilempari botol, maka mereka siap menghadapi dunia. Atmosfernya purba, liar, tapi penuh gairah persaudaraan yang aneh. Tidak ada sekat antara penonton dan musisi; vokalis bisa bernyanyi sambil dirangkul penonton yang berkeringat.

    3. Penutupan dan Diaspora (2000-an)
    Menjelang milenium baru, Poster Cafe tutup buku. Era berpindah ke Parc, BB's, dan kemudian Rossi Musik. Namun, roh Poster Cafe tidak mati. Band-band alumninya justru merajai industri musik Indonesia di tahun 2000-an (seperti Naif dan Clubeighties yang masuk label besar).

    4. Warisan Abadi di Tahun 2025
    Memasuki tahun 2025, Poster Cafe telah berubah menjadi mitos suci.

    Status Legenda: Generasi Z dan Alpha di tahun 2025 memandang Poster Cafe seperti generasi sebelumnya memandang Woodstock. Ia adalah artefak sejarah yang romantis.
    Reuni & Festival: Festival musik besar seperti Synchronize Fest atau Pestapora sering mendedikasikan segmen khusus untuk "Tribute to Poster Cafe". Band-band alumni yang tersisa (atau yang reuni) selalu menjadi headliner yang ditunggu.
    Dokumentasi: Di tahun 2025, arsip visual (foto/video amatir) dari era Poster Cafe telah direstorasi secara digital dan menjadi materi penting dalam pameran sejarah musik di Irama Nusantara, menjadi bukti bahwa Jakarta pernah memiliki skena underground yang sangat organik sebelum era media sosial.
    Kesimpulan
    Poster Cafe adalah bukti bahwa kreativitas terbaik seringkali lahir dari keterbatasan dan ruang yang sempit. Ia mengajarkan etos Do It Yourself (DIY) yang menjadi pondasi industri musik independen Indonesia hari ini. Tanpa keringat dan darah di lantai Poster Cafe tahun 90-an, tidak akan ada ekosistem musik indie yang mapan di tahun 2025.

    Daftar Referensi Kredibel (Sources):
    Putranto, Wendi. (2009). Music Biz: Manual Cerdas Menguasai Bisnis Musik. Bentang Pustaka. (Wendi adalah saksi hidup dan pelaku sejarah skena Poster Cafe, tulisannya menjadi rujukan utama).
    Boer, Harlan. (Musisi & Arsiparis). Tulisan-tulisannya di berbagai media musik (seperti Pophariini) sering mengulas detail sejarah band-band jebolan Poster Cafe seperti Rumahsakit dan The Room.
    Sianipar, Taufiq. (2017). Bising: Dokumenter Musik. (Film dokumenter yang menangkap esensi skena musik keras Indonesia, yang akarnya terhubung dengan venue-venue 90an).
    Arsip Majalah Hai & Poster. (Edisi 1996-1999). Sumber primer yang meliput gigs mingguan di Poster Cafe pada masa itu.
    Irama Nusantara. (Lembaga Pengarsipan Musik Indonesia). Data diskografi band-band indie Jakarta era 90-an.
    Legenda Poster Cafe: Kawah Candradimuka Musik Independen Jakarta (1995–2025) Jika CBGB di New York adalah rahim bagi Punk, maka Poster Cafe adalah rahim bagi skena musik independen (Indie) Jakarta. Terletak di area Museum Satria Mandala, Gatot Subroto, tempat ini bukan sekadar kafe, melainkan inkubator subkultur paling liar yang pernah ada di sejarah musik modern Indonesia. 1. Kejayaan di Bawah Bayangan Tank (1996–1999) Poster Cafe mencapai puncak kejayaannya di paruh kedua dekade 90-an. Ironi terbesar tempat ini adalah lokasinya: sebuah sarang pemberontakan anak muda yang berada di kompleks museum militer Angkatan Bersenjata. Di sinilah Indie Scene Jakarta menemukan bentuknya. Poster Cafe menjadi rumah bagi berbagai faksi musik yang saat itu belum dilirik industri mayor: Britpop, Ska, Punk, dan Hardcore. Acara-acara legendaris seperti "Parklife" atau "Subnormal" menjadi ritual akhir pekan. Band-band yang kini berstatus legenda memulai karir mereka di panggung kecil, panas, dan penuh asap rokok ini. Naif, Rumahsakit, Waiting Room, Clubeighties, hingga Jun Fan Gung Foo adalah alumni "Universitas Poster". Di sini, Rumahsakit dipuja layaknya The Stone Roses lokal, sementara Waiting Room menjadi jembatan antara anak Ska dan Hardcore melalui transisi genre mereka. 2. Benturan Subkultur dan Fashion Poster Cafe bukan hanya soal musik, tapi juga fashion statement. Di era ini, gaya Mods (parka, vespa), Skinhead (boots, braces), dan Punk berbaur. Seringkali percampuran ini memicu gesekan. Perkelahian antar-geng atau keributan di moshpit adalah pemandangan biasa. Menurut Wendi Putranto (jurnalis musik senior), Poster Cafe adalah tempat di mana validasi didapatkan. Jika sebuah band bisa menaklukkan panggung Poster tanpa dilempari botol, maka mereka siap menghadapi dunia. Atmosfernya purba, liar, tapi penuh gairah persaudaraan yang aneh. Tidak ada sekat antara penonton dan musisi; vokalis bisa bernyanyi sambil dirangkul penonton yang berkeringat. 3. Penutupan dan Diaspora (2000-an) Menjelang milenium baru, Poster Cafe tutup buku. Era berpindah ke Parc, BB's, dan kemudian Rossi Musik. Namun, roh Poster Cafe tidak mati. Band-band alumninya justru merajai industri musik Indonesia di tahun 2000-an (seperti Naif dan Clubeighties yang masuk label besar). 4. Warisan Abadi di Tahun 2025 Memasuki tahun 2025, Poster Cafe telah berubah menjadi mitos suci. Status Legenda: Generasi Z dan Alpha di tahun 2025 memandang Poster Cafe seperti generasi sebelumnya memandang Woodstock. Ia adalah artefak sejarah yang romantis. Reuni & Festival: Festival musik besar seperti Synchronize Fest atau Pestapora sering mendedikasikan segmen khusus untuk "Tribute to Poster Cafe". Band-band alumni yang tersisa (atau yang reuni) selalu menjadi headliner yang ditunggu. Dokumentasi: Di tahun 2025, arsip visual (foto/video amatir) dari era Poster Cafe telah direstorasi secara digital dan menjadi materi penting dalam pameran sejarah musik di Irama Nusantara, menjadi bukti bahwa Jakarta pernah memiliki skena underground yang sangat organik sebelum era media sosial. Kesimpulan Poster Cafe adalah bukti bahwa kreativitas terbaik seringkali lahir dari keterbatasan dan ruang yang sempit. Ia mengajarkan etos Do It Yourself (DIY) yang menjadi pondasi industri musik independen Indonesia hari ini. Tanpa keringat dan darah di lantai Poster Cafe tahun 90-an, tidak akan ada ekosistem musik indie yang mapan di tahun 2025. Daftar Referensi Kredibel (Sources): Putranto, Wendi. (2009). Music Biz: Manual Cerdas Menguasai Bisnis Musik. Bentang Pustaka. (Wendi adalah saksi hidup dan pelaku sejarah skena Poster Cafe, tulisannya menjadi rujukan utama). Boer, Harlan. (Musisi & Arsiparis). Tulisan-tulisannya di berbagai media musik (seperti Pophariini) sering mengulas detail sejarah band-band jebolan Poster Cafe seperti Rumahsakit dan The Room. Sianipar, Taufiq. (2017). Bising: Dokumenter Musik. (Film dokumenter yang menangkap esensi skena musik keras Indonesia, yang akarnya terhubung dengan venue-venue 90an). Arsip Majalah Hai & Poster. (Edisi 1996-1999). Sumber primer yang meliput gigs mingguan di Poster Cafe pada masa itu. Irama Nusantara. (Lembaga Pengarsipan Musik Indonesia). Data diskografi band-band indie Jakarta era 90-an.
    Like
    2
    0 Comentários 0 Compartilhamentos 227 Visualizações
MusiXzen https://musixzen.com