Festival Rock Indonesia: Terusir dari Mainstream, Raja di Komunitas
Narasi bahwa festival musik rock di Indonesia "tiada" adalah keliru, namun harus diakui bahwa ia telah tergeser dari panggung utama (mainstream). Festival rock murni kini bertahan hidup dengan strategi segmentasi komunitas, bukan lagi sebagai pop culture massal seperti era 2000-an.
Bukti paling valid bahwa festival rock masih "Ada" dan gagah adalah Hammersonic Festival. Data operasional dari Ravel Entertainment mencatat keberhasilan fenomenal Hammersonic 2023 yang mendatangkan Slipknot, dengan estimasi kehadiran mencapai 25.000 - 30.000 penonton yang datang dari berbagai negara di Asia Tenggara. Ini mengukuhkan posisinya sebagai festival metal terbesar di Asia Tenggara. Selain itu, kebangkitan Rock In Solo dan konsistensi JogjaROCKarta membuktikan bahwa basis massa di daerah (Jawa Tengah/DIY) justru lebih militan dibandingkan Jakarta.
Lalu mengapa terasa "Tiada"? Karena pemain lama berubah haluan. Soundrenaline, yang dulu dikenal sebagai "lebarannya anak rock", kini telah melakukan rebranding total menjadi festival multi-genre (memasukkan Pop, Hip-Hop, Indie) demi mengejar pasar Gen Z yang lebih cair. Rock tidak lagi menjadi menu utama festival umum, melainkan menjadi menu eksklusif di festival spesifik.
Kesimpulannya: Festival rock tidak mati. Ia hanya "pindah rumah" dari panggung umum ke arena komunitas yang lebih loyal dan fanatik.
Sumber Data:
Ravel Entertainment Post-Event Release (Terkait jumlah crowd Hammersonic 2023 & Lineup Slipknot).
Arsip Soundrenaline (Perbandingan Lineup era 2000-an vs Lineup 2022-2023 yang multi-genre).
Agenda Event Pariwisata Kota Surakarta & Yogyakarta (Eksistensi Rock In Solo & JogjaROCKarta).
Narasi bahwa festival musik rock di Indonesia "tiada" adalah keliru, namun harus diakui bahwa ia telah tergeser dari panggung utama (mainstream). Festival rock murni kini bertahan hidup dengan strategi segmentasi komunitas, bukan lagi sebagai pop culture massal seperti era 2000-an.
Bukti paling valid bahwa festival rock masih "Ada" dan gagah adalah Hammersonic Festival. Data operasional dari Ravel Entertainment mencatat keberhasilan fenomenal Hammersonic 2023 yang mendatangkan Slipknot, dengan estimasi kehadiran mencapai 25.000 - 30.000 penonton yang datang dari berbagai negara di Asia Tenggara. Ini mengukuhkan posisinya sebagai festival metal terbesar di Asia Tenggara. Selain itu, kebangkitan Rock In Solo dan konsistensi JogjaROCKarta membuktikan bahwa basis massa di daerah (Jawa Tengah/DIY) justru lebih militan dibandingkan Jakarta.
Lalu mengapa terasa "Tiada"? Karena pemain lama berubah haluan. Soundrenaline, yang dulu dikenal sebagai "lebarannya anak rock", kini telah melakukan rebranding total menjadi festival multi-genre (memasukkan Pop, Hip-Hop, Indie) demi mengejar pasar Gen Z yang lebih cair. Rock tidak lagi menjadi menu utama festival umum, melainkan menjadi menu eksklusif di festival spesifik.
Kesimpulannya: Festival rock tidak mati. Ia hanya "pindah rumah" dari panggung umum ke arena komunitas yang lebih loyal dan fanatik.
Sumber Data:
Ravel Entertainment Post-Event Release (Terkait jumlah crowd Hammersonic 2023 & Lineup Slipknot).
Arsip Soundrenaline (Perbandingan Lineup era 2000-an vs Lineup 2022-2023 yang multi-genre).
Agenda Event Pariwisata Kota Surakarta & Yogyakarta (Eksistensi Rock In Solo & JogjaROCKarta).
Festival Rock Indonesia: Terusir dari Mainstream, Raja di Komunitas
Narasi bahwa festival musik rock di Indonesia "tiada" adalah keliru, namun harus diakui bahwa ia telah tergeser dari panggung utama (mainstream). Festival rock murni kini bertahan hidup dengan strategi segmentasi komunitas, bukan lagi sebagai pop culture massal seperti era 2000-an.
Bukti paling valid bahwa festival rock masih "Ada" dan gagah adalah Hammersonic Festival. Data operasional dari Ravel Entertainment mencatat keberhasilan fenomenal Hammersonic 2023 yang mendatangkan Slipknot, dengan estimasi kehadiran mencapai 25.000 - 30.000 penonton yang datang dari berbagai negara di Asia Tenggara. Ini mengukuhkan posisinya sebagai festival metal terbesar di Asia Tenggara. Selain itu, kebangkitan Rock In Solo dan konsistensi JogjaROCKarta membuktikan bahwa basis massa di daerah (Jawa Tengah/DIY) justru lebih militan dibandingkan Jakarta.
Lalu mengapa terasa "Tiada"? Karena pemain lama berubah haluan. Soundrenaline, yang dulu dikenal sebagai "lebarannya anak rock", kini telah melakukan rebranding total menjadi festival multi-genre (memasukkan Pop, Hip-Hop, Indie) demi mengejar pasar Gen Z yang lebih cair. Rock tidak lagi menjadi menu utama festival umum, melainkan menjadi menu eksklusif di festival spesifik.
Kesimpulannya: Festival rock tidak mati. Ia hanya "pindah rumah" dari panggung umum ke arena komunitas yang lebih loyal dan fanatik.
Sumber Data:
Ravel Entertainment Post-Event Release (Terkait jumlah crowd Hammersonic 2023 & Lineup Slipknot).
Arsip Soundrenaline (Perbandingan Lineup era 2000-an vs Lineup 2022-2023 yang multi-genre).
Agenda Event Pariwisata Kota Surakarta & Yogyakarta (Eksistensi Rock In Solo & JogjaROCKarta).