Kritik Musik yang "Jahat" Kembali Disukai*

Selama lima tahun terakhir, jurnalisme musik terjebak dalam "Toxic Positivity". Semua lagu dibilang "keren", semua album dibilang "masterpiece" karena media takut kehilangan akses atau iklan. Pembaca muak.

Di tahun 2026, kita melihat kembalinya kritikus musik yang jujur, pedas, dan berani memberi nilai 2/10. Blog atau akun substack yang berani bilang "Album ini jelek" justru mendapatkan kepercayaan publik tertinggi. Audiens rindu panduan kurasi yang tidak bias. Kejujuran brutal menjadi komoditas langka yang berharga. Musisi mungkin benci, tapi ekosistem membutuhkannya agar standar kualitas tidak merosot ke level medioker.
Kritik Musik yang "Jahat" Kembali Disukai* Selama lima tahun terakhir, jurnalisme musik terjebak dalam "Toxic Positivity". Semua lagu dibilang "keren", semua album dibilang "masterpiece" karena media takut kehilangan akses atau iklan. Pembaca muak. Di tahun 2026, kita melihat kembalinya kritikus musik yang jujur, pedas, dan berani memberi nilai 2/10. Blog atau akun substack yang berani bilang "Album ini jelek" justru mendapatkan kepercayaan publik tertinggi. Audiens rindu panduan kurasi yang tidak bias. Kejujuran brutal menjadi komoditas langka yang berharga. Musisi mungkin benci, tapi ekosistem membutuhkannya agar standar kualitas tidak merosot ke level medioker.
0 Reacties 0 aandelen 262 Views
MusiXzen https://musixzen.com