• Asuransi Pembatalan Konser: Produk Wajib*

    Trauma pandemi dan cuaca ekstrem akibat perubahan iklim membuat bisnis asuransi hiburan meledak. Di tahun 2026, tidak ada promotor waras yang berani bikin acara outdoor tanpa asuransi cuaca.

    Premi asuransi ini masuk ke dalam komponen harga tiket. Penonton rela bayar ekstra 20 ribu rupiah asal ada jaminan "Refund 100%" jika konser batal karena hujan badai atau artis sakit. Industri keuangan dan industri musik kini terikat erat dalam skema manajemen risiko yang canggih.
    Asuransi Pembatalan Konser: Produk Wajib* Trauma pandemi dan cuaca ekstrem akibat perubahan iklim membuat bisnis asuransi hiburan meledak. Di tahun 2026, tidak ada promotor waras yang berani bikin acara outdoor tanpa asuransi cuaca. Premi asuransi ini masuk ke dalam komponen harga tiket. Penonton rela bayar ekstra 20 ribu rupiah asal ada jaminan "Refund 100%" jika konser batal karena hujan badai atau artis sakit. Industri keuangan dan industri musik kini terikat erat dalam skema manajemen risiko yang canggih.
    0 Σχόλια 0 Μοιράστηκε 173 Views
  • #Hujan #di #jakarta
    #Hujan #di #jakarta
    0 Σχόλια 0 Μοιράστηκε 129 Views

  • **Retakan Analog di Era Algoritma: Menelusuri Peta Suara 2026**

    Jika Anda berdiri di tengah kerumunan festival musik *Coachella* atau *We The Fest* edisi tahun ini, hal pertama yang akan Anda sadari bukanlah hologram panggung yang semakin canggih, melainkan keheningan aneh di antara penonton. Bukan keheningan kosong, tapi keheningan yang mendengarkan.

    Tahun 2026 menjadi titik balik yang ironis. Setelah setengah dekade kita dibombardir oleh musik yang dihasilkan *Artificial Intelligence* (AI)—di mana algoritma mampu menciptakan *hook* pop sempurna dalam hitungan detik—manusia, khususnya Gen Z dan Milenial, akhirnya mengalami "kelelahan digital" (*digital fatigue*). Kita sedang menyaksikan kematian kesempurnaan.

    **Gen Z dan Pemberontakan "Raw-Fi"**

    Mari kita bicara tentang anak-anak kelahiran pasca-2000 ini. Jika di tahun 2022 mereka terobsesi dengan estetika Y2K yang dipoles, di tahun 2026, Gen Z justru menjadi garda depan gerakan yang saya sebut sebagai *"Hyper-Humanism"*.

    Lihat saja fenomena meroketnya sub-genre *Bedroom-Chaos* di tangga lagu global. Mereka tidak lagi menginginkan *autotune* yang mulus atau *mixing* studio seharga jutaan dolar. Mereka menginginkan suara napas penyanyi yang terengah, petikan gitar yang meleset, atau *background noise* suara hujan yang bocor ke dalam rekaman.

    Bagi Gen Z, ketidaksempurnaan adalah mata uang baru. Di dunia di mana komputer bisa meniru segalanya, "kesalahan" adalah satu-satunya bukti otentisitas. Musisi muda berumur 19 tahun kini merilis lagu yang terdengar seperti direkam di kamar mandi dengan memo suara ponsel, dan itu bukan karena keterbatasan biaya, melainkan sebuah pernyataan artistik: "Saya manusia, saya berantakan, dan saya nyata." Ini adalah punk rock versi 2026—bukan tentang distorsi gitar, tapi tentang distorsi kejujuran.

    **Milenial: Melarikan Diri ke "Slow Audio"**

    Di sisi lain spektrum, kita melihat Milenial yang kini telah matang memasuki usia 30-an dan 40-an. Mereka lelah dengan kecepatan konten pendek. Tren musik bagi demografi ini telah bergeser drastis dari *playlist* acak menuju kebangkitan format "Album Konsep".

    Tahun 2026 menandai kembalinya *Slow Audio*. Milenial tidak lagi mencari lagu berdurasi 2 menit untuk TikTok. Mereka mencari pengalaman imersif berdurasi 7 hingga 10 menit. Band-band indie rock dan neo-soul yang bangkit tahun ini menawarkan kompleksitas instrumental yang memaksa pendengar untuk duduk diam dan merenung.

    Ada kerinduan mendalam akan koneksi fisik. Penjualan *CD* (Compact Disc) dan kaset pita secara mengejutkan melampaui piringan hitam (vinyl) di kuartal pertama tahun ini. Mengapa? Karena vinyl menjadi terlalu mahal dan elitis. CD menawarkan nostalgia taktil era 2000-an yang dirindukan Milenial—sebuah era di mana kita memiliki kontrol fisik atas apa yang kita dengar, bukan disuapi oleh kurasi mesin.

    **Persimpangan Jalan: Konser Tanpa Ponsel**

    Titik temu antara kedua generasi ini terjadi di ruang pertunjukan langsung. Tren terbesar tahun 2026 adalah konser "No-Device". Bukan karena larangan promotor, tapi karena kesepakatan sosial yang tak tertulis.

    Ada rasa muak kolektif terhadap layar. Generasi yang tumbuh dengan internet kini justru menjadi yang paling rindu untuk melepaskan diri darinya. Musik di tahun 2026 bukan lagi tentang apa yang bisa Anda pamerkan di media sosial, tapi tentang apa yang bisa Anda rasakan di dada Anda saat *bass* menghentak.

    Kita telah sampai pada era di mana musik yang "terlalu bagus" atau "terlalu rapi" justru dicurigai sebagai buatan mesin. Kualitas produksi yang kasar, lirik yang canggung namun tulus, dan aransemen yang tidak terduga menjadi standar emas baru.

    Tahun 2026 mengajarkan kita satu hal penting: Teknologi mungkin bisa meniru suara, tapi ia tidak bisa meniru rasa sakit, kegembiraan, dan kerentanan. Dan itulah satu-satunya hal yang ingin didengar oleh telinga kita saat ini. Musik telah kembali ke rumahnya: Kemanusiaan.

    ***
    **Retakan Analog di Era Algoritma: Menelusuri Peta Suara 2026** Jika Anda berdiri di tengah kerumunan festival musik *Coachella* atau *We The Fest* edisi tahun ini, hal pertama yang akan Anda sadari bukanlah hologram panggung yang semakin canggih, melainkan keheningan aneh di antara penonton. Bukan keheningan kosong, tapi keheningan yang mendengarkan. Tahun 2026 menjadi titik balik yang ironis. Setelah setengah dekade kita dibombardir oleh musik yang dihasilkan *Artificial Intelligence* (AI)—di mana algoritma mampu menciptakan *hook* pop sempurna dalam hitungan detik—manusia, khususnya Gen Z dan Milenial, akhirnya mengalami "kelelahan digital" (*digital fatigue*). Kita sedang menyaksikan kematian kesempurnaan. **Gen Z dan Pemberontakan "Raw-Fi"** Mari kita bicara tentang anak-anak kelahiran pasca-2000 ini. Jika di tahun 2022 mereka terobsesi dengan estetika Y2K yang dipoles, di tahun 2026, Gen Z justru menjadi garda depan gerakan yang saya sebut sebagai *"Hyper-Humanism"*. Lihat saja fenomena meroketnya sub-genre *Bedroom-Chaos* di tangga lagu global. Mereka tidak lagi menginginkan *autotune* yang mulus atau *mixing* studio seharga jutaan dolar. Mereka menginginkan suara napas penyanyi yang terengah, petikan gitar yang meleset, atau *background noise* suara hujan yang bocor ke dalam rekaman. Bagi Gen Z, ketidaksempurnaan adalah mata uang baru. Di dunia di mana komputer bisa meniru segalanya, "kesalahan" adalah satu-satunya bukti otentisitas. Musisi muda berumur 19 tahun kini merilis lagu yang terdengar seperti direkam di kamar mandi dengan memo suara ponsel, dan itu bukan karena keterbatasan biaya, melainkan sebuah pernyataan artistik: "Saya manusia, saya berantakan, dan saya nyata." Ini adalah punk rock versi 2026—bukan tentang distorsi gitar, tapi tentang distorsi kejujuran. **Milenial: Melarikan Diri ke "Slow Audio"** Di sisi lain spektrum, kita melihat Milenial yang kini telah matang memasuki usia 30-an dan 40-an. Mereka lelah dengan kecepatan konten pendek. Tren musik bagi demografi ini telah bergeser drastis dari *playlist* acak menuju kebangkitan format "Album Konsep". Tahun 2026 menandai kembalinya *Slow Audio*. Milenial tidak lagi mencari lagu berdurasi 2 menit untuk TikTok. Mereka mencari pengalaman imersif berdurasi 7 hingga 10 menit. Band-band indie rock dan neo-soul yang bangkit tahun ini menawarkan kompleksitas instrumental yang memaksa pendengar untuk duduk diam dan merenung. Ada kerinduan mendalam akan koneksi fisik. Penjualan *CD* (Compact Disc) dan kaset pita secara mengejutkan melampaui piringan hitam (vinyl) di kuartal pertama tahun ini. Mengapa? Karena vinyl menjadi terlalu mahal dan elitis. CD menawarkan nostalgia taktil era 2000-an yang dirindukan Milenial—sebuah era di mana kita memiliki kontrol fisik atas apa yang kita dengar, bukan disuapi oleh kurasi mesin. **Persimpangan Jalan: Konser Tanpa Ponsel** Titik temu antara kedua generasi ini terjadi di ruang pertunjukan langsung. Tren terbesar tahun 2026 adalah konser "No-Device". Bukan karena larangan promotor, tapi karena kesepakatan sosial yang tak tertulis. Ada rasa muak kolektif terhadap layar. Generasi yang tumbuh dengan internet kini justru menjadi yang paling rindu untuk melepaskan diri darinya. Musik di tahun 2026 bukan lagi tentang apa yang bisa Anda pamerkan di media sosial, tapi tentang apa yang bisa Anda rasakan di dada Anda saat *bass* menghentak. Kita telah sampai pada era di mana musik yang "terlalu bagus" atau "terlalu rapi" justru dicurigai sebagai buatan mesin. Kualitas produksi yang kasar, lirik yang canggung namun tulus, dan aransemen yang tidak terduga menjadi standar emas baru. Tahun 2026 mengajarkan kita satu hal penting: Teknologi mungkin bisa meniru suara, tapi ia tidak bisa meniru rasa sakit, kegembiraan, dan kerentanan. Dan itulah satu-satunya hal yang ingin didengar oleh telinga kita saat ini. Musik telah kembali ke rumahnya: Kemanusiaan. ***
    0 Σχόλια 0 Μοιράστηκε 291 Views
  • Musik-Musik Chill Kuasai Playlist “Healing” Anak Muda Indonesia Hingga Akhir November

    Hingga akhir November 2024, musik-musik bernuansa chill—dari lo-fi, chillhop, bedroom pop, sampai akustik santai—kian menguasai ruang dengar digital di Indonesia. Data streaming sampai Oktober 2024 di Spotify, YouTube, dan TikTok menunjukkan lonjakan stabil untuk playlist bertema chill, fokus, dan healing, tren yang berlanjut di penghujung November.

    Di Spotify Indonesia, deretan playlist kurasi seperti “Indie Chill”, “Chillax”, “Acoustic Favorites”, hingga daftar putar bertema senja dan kopi konsisten menempati jajaran teratas kategori mood. Lagu-lagu dari Hindia, Nadin Amizah, Pamungkas, Sal Priadi, Ardhito Pramono, hingga Oslo Ibrahim kerap muncul berdampingan dengan musisi mancanegara seperti Honne, Joji, dan Keshi, membentuk lanskap chill yang campuran lokal-global.

    Di YouTube, video kompilasi “chill Indonesia 1 jam”, “lagu santai buat kerja”, atau “chill vibes di kamar kos” mengumpulkan jutaan tayangan. Banyak di antaranya menampilkan visual kota malam, hujan, hingga ilustrasi kamar minimalis—citra yang dekat dengan kehidupan urban anak muda di Jakarta, Bandung, dan kota-kota kampus.

    TikTok menjadi mesin penguat utama. Tagar seperti #chillvibes, #healingmusic, #studywithme, #workfromcafe ramai digunakan untuk konten belajar, kerja di kafe, hingga vlog perjalanan singkat. Potongan 15–30 detik bagian paling “adem” dari sebuah lagu sering kali lebih dulu viral di TikTok sebelum mendorong lonjakan stream penuh di platform audio.

    Di dunia offline, musik chill menjelma jadi identitas gaya hidup. Kafe, coworking space, barbershop, hingga boutique kecil memilih daftar putar chill sebagai latar: cukup ritmis untuk menghidupkan suasana, namun tidak mengganggu obrolan. Banyak pemilik usaha mengaku memilih lagu dari playlist Spotify populer, menjadikan apa yang tren di gawai langsung terdengar di ruang publik.

    Produser lokal ikut memanfaatkan momentum. Beatmaker kamar tidur merilis trek chillhop dan lo-fi bernuansa gitar lembut; penyanyi muda meracik bedroom pop berbahasa Indonesia yang liriknya intim dan personal. Meski jarang menembus Top 50 umum, mereka kuat di playlist niche seperti “belajar santai”, “ngoding malam”, atau “late night drive”.

    Tren ini menandai pergeseran fungsi musik bagi generasi muda Indonesia: bukan sekadar hiburan yang mencuri pusat perhatian, melainkan latar emosional yang melembutkan tekanan sekolah, kerja, dan padatnya kota. Di era serba cepat, musik chill menjadi bentuk perlawanan halus: pelan, tenang, dan sengaja tidak berisik.

    Daftar Pustaka

    Spotify Charts. (2024). Top 50 – Indonesia & kategori Mood. Diakses Oktober 2024, dari https://spotifycharts.com/regional

    Spotify. (2024). Browse Playlists – Mood & Focus (Indonesia). Diakses Oktober 2024, dari https://open.spotify.com

    YouTube Music. (2024). Music Charts & Insights – Indonesia. Diakses Oktober 2024, dari https://charts.youtube.com

    TikTok. (2024). Creative Center – Top Songs & Hashtags Indonesia. Diakses Oktober 2024, dari https://www.tiktok.com/creativecenter/music
    Musik-Musik Chill Kuasai Playlist “Healing” Anak Muda Indonesia Hingga Akhir November Hingga akhir November 2024, musik-musik bernuansa chill—dari lo-fi, chillhop, bedroom pop, sampai akustik santai—kian menguasai ruang dengar digital di Indonesia. Data streaming sampai Oktober 2024 di Spotify, YouTube, dan TikTok menunjukkan lonjakan stabil untuk playlist bertema chill, fokus, dan healing, tren yang berlanjut di penghujung November. Di Spotify Indonesia, deretan playlist kurasi seperti “Indie Chill”, “Chillax”, “Acoustic Favorites”, hingga daftar putar bertema senja dan kopi konsisten menempati jajaran teratas kategori mood. Lagu-lagu dari Hindia, Nadin Amizah, Pamungkas, Sal Priadi, Ardhito Pramono, hingga Oslo Ibrahim kerap muncul berdampingan dengan musisi mancanegara seperti Honne, Joji, dan Keshi, membentuk lanskap chill yang campuran lokal-global. Di YouTube, video kompilasi “chill Indonesia 1 jam”, “lagu santai buat kerja”, atau “chill vibes di kamar kos” mengumpulkan jutaan tayangan. Banyak di antaranya menampilkan visual kota malam, hujan, hingga ilustrasi kamar minimalis—citra yang dekat dengan kehidupan urban anak muda di Jakarta, Bandung, dan kota-kota kampus. TikTok menjadi mesin penguat utama. Tagar seperti #chillvibes, #healingmusic, #studywithme, #workfromcafe ramai digunakan untuk konten belajar, kerja di kafe, hingga vlog perjalanan singkat. Potongan 15–30 detik bagian paling “adem” dari sebuah lagu sering kali lebih dulu viral di TikTok sebelum mendorong lonjakan stream penuh di platform audio. Di dunia offline, musik chill menjelma jadi identitas gaya hidup. Kafe, coworking space, barbershop, hingga boutique kecil memilih daftar putar chill sebagai latar: cukup ritmis untuk menghidupkan suasana, namun tidak mengganggu obrolan. Banyak pemilik usaha mengaku memilih lagu dari playlist Spotify populer, menjadikan apa yang tren di gawai langsung terdengar di ruang publik. Produser lokal ikut memanfaatkan momentum. Beatmaker kamar tidur merilis trek chillhop dan lo-fi bernuansa gitar lembut; penyanyi muda meracik bedroom pop berbahasa Indonesia yang liriknya intim dan personal. Meski jarang menembus Top 50 umum, mereka kuat di playlist niche seperti “belajar santai”, “ngoding malam”, atau “late night drive”. Tren ini menandai pergeseran fungsi musik bagi generasi muda Indonesia: bukan sekadar hiburan yang mencuri pusat perhatian, melainkan latar emosional yang melembutkan tekanan sekolah, kerja, dan padatnya kota. Di era serba cepat, musik chill menjadi bentuk perlawanan halus: pelan, tenang, dan sengaja tidak berisik. Daftar Pustaka Spotify Charts. (2024). Top 50 – Indonesia & kategori Mood. Diakses Oktober 2024, dari https://spotifycharts.com/regional Spotify. (2024). Browse Playlists – Mood & Focus (Indonesia). Diakses Oktober 2024, dari https://open.spotify.com YouTube Music. (2024). Music Charts & Insights – Indonesia. Diakses Oktober 2024, dari https://charts.youtube.com TikTok. (2024). Creative Center – Top Songs & Hashtags Indonesia. Diakses Oktober 2024, dari https://www.tiktok.com/creativecenter/music
    SPOTIFYCHARTS.COM
    Spotify Charts - Spotify Charts are made by fans
    The new home for Spotify Charts. Dive into artist, genre, city and local pulse charts to see what music is moving fans around the world.
    0 Σχόλια 0 Μοιράστηκε 483 Views
  • Daur Ulang Emas: Satu Dekade Album Cover dan Tribute Terbaik Indonesia (2014-2024)
    Dalam sepuluh tahun terakhir, industri musik Indonesia tidak hanya disibukkan dengan pencarian talenta baru, tetapi juga perayaan megah terhadap warisan masa lalu. Tren merilis album cover (daur ulang) atau album tribute bukan lagi dianggap sebagai tanda "kekeringan kreativitas", melainkan sebuah upaya strategis untuk menjembatani kesenjangan generasi (generational gap) dan pelestarian arsip musik nasional. Berikut adalah rekam jejak album-album cover terbaik yang mendefinisikan dekade ini.

    NOAH dan Standar Baru Daur Ulang
    Tonggak penting tren ini ditancapkan oleh NOAH melalui album Sings Legends (2016). Ariel dan kawan-kawan tidak sekadar menyanyikan ulang lagu lawas; mereka mendekonstruksi aransemen lagu-lagu legendaris dari Koes Plus ("Andaikan Kau Datang") hingga Titiek Puspa ("Kupu-Kupu Malam") dengan cita rasa rock modern dan sinematik. Keberhasilan album ini membuktikan bahwa lagu berusia 40 tahun bisa kembali merajai tangga lagu radio dan platform streaming jika dikemas dengan produksi audio yang relevan dengan telinga Gen Z.

    Penghormatan Sang Maestro: Detik Waktu
    Jika NOAH mewakili sisi pop-rock arus utama, maka album Detik Waktu: Perjalanan Karya Cipta Candra Darusman (2018) adalah puncak pencapaian artistik dalam format album tribute. Album ini memenangkan penghargaan "Album Terbaik Terbaik" di AMI Awards 2018. Melibatkan musisi lintas generasi seperti Danilla, Monita Tahalea, hingga Glenn Fredly, album ini berhasil menerjemahkan kompleksitas musik Candra Darusman (Chaseiro/Karimata) menjadi pop-jazz yang sophisticated namun renyah didengar anak muda. Lagu "Rintik Hujan" yang dibawakan HiVi! menjadi contoh sukses bagaimana lagu lama terdengar seperti lagu baru yang segar.

    Eksplorasi Indie dan Pop Kreatif
    Di ranah yang lebih luas, album Puspa Ragam Karya Guruh Sukarnoputra (2020) juga layak dicatat. Musica Studio mengumpulkan ikon-ikon musik masa kini seperti Kunto Aji, Maizura, hingga Iwan Fals untuk menyanyikan ulang karya Guruh. Aransemen yang tidak terpaku pada versi asli—seperti nuansa elektronik pada beberapa trek—menjadikan album ini sebuah eksperimen yang berhasil, bukan sekadar nostalgia murah.

    Selain itu, proyek Lagu Baru dari Masa Lalu (LBDML) yang digagas oleh Irama Nusantara pada awal dekade 2020-an juga memberikan warna tersendiri, di mana band-band independen meng-cover lagu-lagu Indonesia obscure (kurang dikenal) dari era 60-70an, menghidupkan kembali harta karun yang terkubur.

    Kesimpulan
    Selama periode 2014-2024, album cover di Indonesia telah bertransformasi. Ia tidak lagi sekadar kompilasi "The Best Of" yang malas, melainkan proyek kuratorial yang serius. Album-album ini berhasil memperpanjang napas lagu-lagu klasik, memastikan bahwa karya Bimbo, Candra Darusman, atau Chrisye tidak hilang ditelan algoritma, melainkan hidup berdampingan dengan playlist modern.

    Daftar Pustaka
    AMI Awards. (2018). Daftar Pemenang AMI Awards ke-21: Detik Waktu Raih Album Terbaik. Jakarta: Yayasan Anugerah Musik Indonesia. Diakses dari ami-awards.com.
    Rolling Stone Indonesia. (2016). "Review Album: NOAH - Sings Legends". (Arsip Edisi Cetak/Digital 2016).
    Wahyudi, A. (2021). "Politik Ingatan dalam Musik Populer: Tren Album Tribute di Indonesia". Jurnal Musikologi Nusantara, Vol. 4, No. 1, Institut Seni Indonesia.
    Billboard Indonesia. (2020). "Puspa Ragam Karya: Menghidupkan Kembali Magis Guruh Sukarnoputra". Diakses dari billboard.id.
    Irama Nusantara. (2021). Arsip dan Reinterpretasi: Proyek Lagu Baru Dari Masa Lalu. Jakarta: Yayasan Irama Nusantara.
    Daur Ulang Emas: Satu Dekade Album Cover dan Tribute Terbaik Indonesia (2014-2024) Dalam sepuluh tahun terakhir, industri musik Indonesia tidak hanya disibukkan dengan pencarian talenta baru, tetapi juga perayaan megah terhadap warisan masa lalu. Tren merilis album cover (daur ulang) atau album tribute bukan lagi dianggap sebagai tanda "kekeringan kreativitas", melainkan sebuah upaya strategis untuk menjembatani kesenjangan generasi (generational gap) dan pelestarian arsip musik nasional. Berikut adalah rekam jejak album-album cover terbaik yang mendefinisikan dekade ini. NOAH dan Standar Baru Daur Ulang Tonggak penting tren ini ditancapkan oleh NOAH melalui album Sings Legends (2016). Ariel dan kawan-kawan tidak sekadar menyanyikan ulang lagu lawas; mereka mendekonstruksi aransemen lagu-lagu legendaris dari Koes Plus ("Andaikan Kau Datang") hingga Titiek Puspa ("Kupu-Kupu Malam") dengan cita rasa rock modern dan sinematik. Keberhasilan album ini membuktikan bahwa lagu berusia 40 tahun bisa kembali merajai tangga lagu radio dan platform streaming jika dikemas dengan produksi audio yang relevan dengan telinga Gen Z. Penghormatan Sang Maestro: Detik Waktu Jika NOAH mewakili sisi pop-rock arus utama, maka album Detik Waktu: Perjalanan Karya Cipta Candra Darusman (2018) adalah puncak pencapaian artistik dalam format album tribute. Album ini memenangkan penghargaan "Album Terbaik Terbaik" di AMI Awards 2018. Melibatkan musisi lintas generasi seperti Danilla, Monita Tahalea, hingga Glenn Fredly, album ini berhasil menerjemahkan kompleksitas musik Candra Darusman (Chaseiro/Karimata) menjadi pop-jazz yang sophisticated namun renyah didengar anak muda. Lagu "Rintik Hujan" yang dibawakan HiVi! menjadi contoh sukses bagaimana lagu lama terdengar seperti lagu baru yang segar. Eksplorasi Indie dan Pop Kreatif Di ranah yang lebih luas, album Puspa Ragam Karya Guruh Sukarnoputra (2020) juga layak dicatat. Musica Studio mengumpulkan ikon-ikon musik masa kini seperti Kunto Aji, Maizura, hingga Iwan Fals untuk menyanyikan ulang karya Guruh. Aransemen yang tidak terpaku pada versi asli—seperti nuansa elektronik pada beberapa trek—menjadikan album ini sebuah eksperimen yang berhasil, bukan sekadar nostalgia murah. Selain itu, proyek Lagu Baru dari Masa Lalu (LBDML) yang digagas oleh Irama Nusantara pada awal dekade 2020-an juga memberikan warna tersendiri, di mana band-band independen meng-cover lagu-lagu Indonesia obscure (kurang dikenal) dari era 60-70an, menghidupkan kembali harta karun yang terkubur. Kesimpulan Selama periode 2014-2024, album cover di Indonesia telah bertransformasi. Ia tidak lagi sekadar kompilasi "The Best Of" yang malas, melainkan proyek kuratorial yang serius. Album-album ini berhasil memperpanjang napas lagu-lagu klasik, memastikan bahwa karya Bimbo, Candra Darusman, atau Chrisye tidak hilang ditelan algoritma, melainkan hidup berdampingan dengan playlist modern. Daftar Pustaka AMI Awards. (2018). Daftar Pemenang AMI Awards ke-21: Detik Waktu Raih Album Terbaik. Jakarta: Yayasan Anugerah Musik Indonesia. Diakses dari ami-awards.com. Rolling Stone Indonesia. (2016). "Review Album: NOAH - Sings Legends". (Arsip Edisi Cetak/Digital 2016). Wahyudi, A. (2021). "Politik Ingatan dalam Musik Populer: Tren Album Tribute di Indonesia". Jurnal Musikologi Nusantara, Vol. 4, No. 1, Institut Seni Indonesia. Billboard Indonesia. (2020). "Puspa Ragam Karya: Menghidupkan Kembali Magis Guruh Sukarnoputra". Diakses dari billboard.id. Irama Nusantara. (2021). Arsip dan Reinterpretasi: Proyek Lagu Baru Dari Masa Lalu. Jakarta: Yayasan Irama Nusantara.
    Like
    1
    0 Σχόλια 0 Μοιράστηκε 483 Views
MusiXzen https://musixzen.com