• CD impor (used):
    LEON RUSSELL (rock/white-soul) @ 80rb
    ZZ TOP (blues-rock/AOR) @ 75rb
    Wa: 085692837065

    CD impor (used): LEON RUSSELL (rock/white-soul) @ 80rb ZZ TOP (blues-rock/AOR) @ 75rb Wa: 085692837065
    Like
    1
    0 Comentários 0 Compartilhamentos 211 Visualizações


  • ---

    Sejarah Singkat Musik Blues:
    Blues lahir di akhir abad ke-19 dari komunitas Afrika-Amerika di Selatan AS, sebagai ekspresi penderitaan dan harapan lewat musik. Akar utamanya berasal dari spiritual, work songs, dan musik rakyat Afrika. Ciri khas blues adalah pola 12-bar, blue notes, improvisasi, dan tema kehidupan keras. Tokoh penting: Robert Johnson, Muddy Waters, B.B. King, dan Howlin' Wolf. Blues menjadi fondasi utama bagi jazz, R&B, dan rock.

    ---

    10 Album Blues Terbaik Sepanjang Masa:
    1. Kind of Blues Guitar – B.B. King
    2. Texas Flood – Stevie Ray Vaughan
    3. At Newport 1960 – Muddy Waters
    4. The Complete Recordings – Robert Johnson
    5. Hard Again – Muddy Waters
    6. Born Under a Bad Sign – Albert King
    7. Live at the Regal – B.B. King
    8. I Am the Blues – Willie Dixon
    9. Moanin’ in the Moonlight – Howlin’ Wolf
    10. Let It Bleed – The Rolling Stones (blues-rock crossover)

    ---

    Sumber kredibel:
    - The Blues Foundation (blues.org)
    - AllMusic Guide
    - Rolling Stone Magazine
    - "Deep Blues" by Robert Palmer (buku)
    - PBS: The Blues (Scorsese series)
    --- Sejarah Singkat Musik Blues: Blues lahir di akhir abad ke-19 dari komunitas Afrika-Amerika di Selatan AS, sebagai ekspresi penderitaan dan harapan lewat musik. Akar utamanya berasal dari spiritual, work songs, dan musik rakyat Afrika. Ciri khas blues adalah pola 12-bar, blue notes, improvisasi, dan tema kehidupan keras. Tokoh penting: Robert Johnson, Muddy Waters, B.B. King, dan Howlin' Wolf. Blues menjadi fondasi utama bagi jazz, R&B, dan rock. --- 10 Album Blues Terbaik Sepanjang Masa: 1. Kind of Blues Guitar – B.B. King 2. Texas Flood – Stevie Ray Vaughan 3. At Newport 1960 – Muddy Waters 4. The Complete Recordings – Robert Johnson 5. Hard Again – Muddy Waters 6. Born Under a Bad Sign – Albert King 7. Live at the Regal – B.B. King 8. I Am the Blues – Willie Dixon 9. Moanin’ in the Moonlight – Howlin’ Wolf 10. Let It Bleed – The Rolling Stones (blues-rock crossover) --- Sumber kredibel: - The Blues Foundation (blues.org) - AllMusic Guide - Rolling Stone Magazine - "Deep Blues" by Robert Palmer (buku) - PBS: The Blues (Scorsese series)
    0 Comentários 0 Compartilhamentos 448 Visualizações
  • Musik jazz lahir di awal abad ke-20 di New Orleans, Amerika Serikat, sebagai hasil perpaduan budaya Afrika, Eropa, dan Karibia. Jazz berakar dari blues, ragtime, dan musik spiritual Afro-Amerika. Awalnya dimainkan oleh komunitas kulit hitam, jazz berkembang lewat improvisasi, swing, dan sinkopasi ritmis. Tokoh awal seperti Louis Armstrong mempopulerkannya di tahun 1920-an. Era “Swing” tahun 1930-an melibatkan band besar (big band) seperti Duke Ellington dan Count Basie. Tahun 1940-an muncullah bebop (Charlie Parker, Dizzy Gillespie), lalu gaya seperti cool jazz, modal jazz (Miles Davis), hingga fusion di tahun 1970-an. Kini jazz terus berevolusi, menggabungkan unsur elektronik, hip hop, dan musik dunia.

    Sumber kredibel:
    - Smithsonian Jazz (smithsonianjazz.org)
    - The History of Jazz oleh Ted Gioia (buku)
    - National Museum of American History archives.
    Musik jazz lahir di awal abad ke-20 di New Orleans, Amerika Serikat, sebagai hasil perpaduan budaya Afrika, Eropa, dan Karibia. Jazz berakar dari blues, ragtime, dan musik spiritual Afro-Amerika. Awalnya dimainkan oleh komunitas kulit hitam, jazz berkembang lewat improvisasi, swing, dan sinkopasi ritmis. Tokoh awal seperti Louis Armstrong mempopulerkannya di tahun 1920-an. Era “Swing” tahun 1930-an melibatkan band besar (big band) seperti Duke Ellington dan Count Basie. Tahun 1940-an muncullah bebop (Charlie Parker, Dizzy Gillespie), lalu gaya seperti cool jazz, modal jazz (Miles Davis), hingga fusion di tahun 1970-an. Kini jazz terus berevolusi, menggabungkan unsur elektronik, hip hop, dan musik dunia. Sumber kredibel: - Smithsonian Jazz (smithsonianjazz.org) - The History of Jazz oleh Ted Gioia (buku) - National Museum of American History archives.
    0 Comentários 0 Compartilhamentos 168 Visualizações
  • Band Amerika yang sering dianggap mirip dengan The Rolling Stones dalam hal gaya musik rock 'n roll klasik, energi panggung, dan pengaruh blues adalah:

    1. Aerosmith
    - Dijuluki "The Bad Boys from Boston"
    - Gaya rock/blues yang enerjik dan liar, mirip The Rolling Stones
    - Steven Tyler sering dibandingkan dengan Mick Jagger

    2. The Black Crowes
    - Rock dengan nuansa blues dan southern
    - Banyak dipengaruhi oleh The Rolling Stones dan Faces

    3. The Stooges (lebih mentah, proto-punk, tapi spiritnya liar seperti Stones)

    Tapi yang paling mendekati secara vibe dan pengaruh: Aerosmith.
    Band Amerika yang sering dianggap mirip dengan The Rolling Stones dalam hal gaya musik rock 'n roll klasik, energi panggung, dan pengaruh blues adalah: 1. Aerosmith - Dijuluki "The Bad Boys from Boston" - Gaya rock/blues yang enerjik dan liar, mirip The Rolling Stones - Steven Tyler sering dibandingkan dengan Mick Jagger 2. The Black Crowes - Rock dengan nuansa blues dan southern - Banyak dipengaruhi oleh The Rolling Stones dan Faces 3. The Stooges (lebih mentah, proto-punk, tapi spiritnya liar seperti Stones) Tapi yang paling mendekati secara vibe dan pengaruh: Aerosmith.
    0 Comentários 0 Compartilhamentos 219 Visualizações
  • Jual: CD soundtrack
    THE BLUES BROTHERS
    Harga: Rp 75.000
    Wa: 085692837065
    Jual: CD soundtrack THE BLUES BROTHERS Harga: Rp 75.000 Wa: 085692837065
    Like
    1
    1 Comentários 0 Compartilhamentos 158 Visualizações
  • Jejak Biru Nusantara: Sejarah dan Eksistensi Musik Blues di Indonesia (1960–2025)
    Musik Blues di Indonesia adalah fenomena unik. Ia tidak pernah menjadi genre "sejuta umat" seperti Pop atau Dangdut, namun ia adalah "tulang punggung" yang menghidupi banyak musisi rock dan jazz tanah air. Hingga tahun 2025, Blues di Indonesia bertahan sebagai genre segmented yang memiliki basis massa loyal dan regenerasi musisi yang teknikal.

    1. Gelombang Awal: Resapan Psychedelic (1960–1970)
    Blues tidak masuk ke Indonesia dalam bentuk aslinya (Delta Blues atau Chicago Blues), melainkan "membonceng" gelombang British Invasion dan Psychedelic Rock akhir 60-an. Musisi Indonesia saat itu lebih mengenal Blues melalui The Rolling Stones atau John Mayall & The Bluesbreakers ketimbang B.B. King.

    Grup legendaris The Rollies (asal Bandung) dan AKA (Surabaya) adalah pionir yang memasukkan unsur brass dan progresi 12-bar blues dalam komposisi rock mereka. Menurut pengamat musik Denny Sakrie dalam bukunya 100 Tahun Musik Indonesia, pada era ini Blues masih dianggap sebagai "bumbu" dari musik Rock, belum berdiri sebagai identitas tunggal yang dominan.

    2. Infiltrasi Mainstream & "Blues Males" (1980–1990)
    Era 80-an dan 90-an menjadi masa penting di mana elemen Blues mulai diperkenalkan ke pasar mainstream dengan kemasan yang lebih radio-friendly. Slank adalah katalisator utama di era 90-an. Meskipun mereka band Rock, lagu-lagu seperti Blues Males memperkenalkan gaya bernyanyi slur dan struktur blues yang urakan kepada jutaan anak muda Indonesia.

    Di kancah yang lebih puriis, muncul Time Band dan tokoh-tokoh seperti Oding Nasution dan Donny Suhendra yang konsisten memainkan Blues di sirkuit kafe dan pub Jakarta, menjaga nyala api genre ini tetap hidup di kalangan komunitas musisi.

    3. Keemasan Komunitas & Pengakuan Global (2000–2015)
    Awal milenium adalah masa keemasan panggung Blues Indonesia. Berdirinya InaBlues (Indonesia Blues Association) menjadi wadah yang solid. Puncaknya adalah penyelenggaraan Jakarta International Blues Festival yang rutin mendatangkan legenda dunia.

    Pada era ini, Gugun Blues Shelter (GBS) muncul sebagai ikon modern. Mereka tidak hanya jago kandang, tapi menembus panggung dunia (bermain di Hyde Park, London). GBS membuktikan bahwa musisi Indonesia mampu memainkan Modern Blues-Rock dengan kualitas internasional. Selain itu, muncul Adrian Adioetomo yang berani mengambil jalur Delta Blues akustik dengan gitar dobro, memberikan edukasi bahwa Blues tidak melulu soal distorsi gitar listrik.

    4. Regenerasi dan Era Digital (2016–2020)
    Tren musik dunia bergeser ke arah elektronik, namun Blues di Indonesia menemukan jalannya sendiri. Muncul nama-nama seperti Ginda Bestari dan Kelompok Penerbang Roket (yang meski rock, sangat kental nuansa blues-nya). Era ini ditandai dengan pola konsumsi digital. Musisi Blues mulai memanfaatkan YouTube dan Spotify untuk menjangkau pendengar yang lebih muda, melepaskan ketergantungan dari label besar.

    5. Blues di Tahun 2025: Niche yang Eksklusif
    Memasuki tahun 2025, musik Blues di Indonesia telah berevolusi menjadi genre "High-End Niche".

    Ekosistem: Blues tidak lagi berharap menjadi pop. Ia hidup subur di Hi-Fi Bars, Listening Rooms, dan festival terkurasi di Jakarta, Bandung, dan Bali.
    Fusi Genre: Batas antara Blues, Neo-Soul, dan Jazz semakin kabur. Musisi muda di tahun 2025 cenderung memainkan "Hybrid Blues"—mencampurkan lick gitar blues tradisional dengan beat Lo-Fi atau R&B modern.
    Pasar: Penikmatnya adalah kelas menengah ke atas dan musisi idealis. Blues dianggap sebagai musik yang menuntut apresiasi musikalitas tinggi.
    Meski tidak merajai tangga lagu viral TikTok, Blues di tahun 2025 tetap dihormati sebagai "Guru" dari segala musik modern di Indonesia. Seperti kata pepatah lama musisi: Blues is the roots, the rest is the fruits.

    Daftar Referensi Kredibel (Sources):
    Sakrie, Denny. (2015). 100 Tahun Musik Indonesia. GagasMedia. (Buku "kitab suci" sejarah musik Indonesia yang mencatat peran The Rollies dan perkembangan rock-blues).
    Rolling Stone Indonesia. (Arsip Edisi Cetak & Digital 2005-2017). Feature Articles: Gugun Blues Shelter & Sejarah InaBlues. (Sumber utama jurnalisme musik yang mendokumentasikan era festival blues).
    KS, Theodore. (Pengamat Musik Senior). Artikel-artikelnya di Kompas sering membahas evolusi komunitas musik spesifik (Jazz dan Blues) di Indonesia.
    WartaJazz.com. (Arsip Berita). Dokumentasi mengenai penyelenggaraan Jakarta Blues Festival dan aktivitas komunitas InaBlues yang beririsan dengan komunitas Jazz.
    Situs Resmi Gugun Blues Shelter & Interview Arsip. (Untuk validasi pencapaian internasional musisi Blues Indonesia).





    Jejak Biru Nusantara: Sejarah dan Eksistensi Musik Blues di Indonesia (1960–2025) Musik Blues di Indonesia adalah fenomena unik. Ia tidak pernah menjadi genre "sejuta umat" seperti Pop atau Dangdut, namun ia adalah "tulang punggung" yang menghidupi banyak musisi rock dan jazz tanah air. Hingga tahun 2025, Blues di Indonesia bertahan sebagai genre segmented yang memiliki basis massa loyal dan regenerasi musisi yang teknikal. 1. Gelombang Awal: Resapan Psychedelic (1960–1970) Blues tidak masuk ke Indonesia dalam bentuk aslinya (Delta Blues atau Chicago Blues), melainkan "membonceng" gelombang British Invasion dan Psychedelic Rock akhir 60-an. Musisi Indonesia saat itu lebih mengenal Blues melalui The Rolling Stones atau John Mayall & The Bluesbreakers ketimbang B.B. King. Grup legendaris The Rollies (asal Bandung) dan AKA (Surabaya) adalah pionir yang memasukkan unsur brass dan progresi 12-bar blues dalam komposisi rock mereka. Menurut pengamat musik Denny Sakrie dalam bukunya 100 Tahun Musik Indonesia, pada era ini Blues masih dianggap sebagai "bumbu" dari musik Rock, belum berdiri sebagai identitas tunggal yang dominan. 2. Infiltrasi Mainstream & "Blues Males" (1980–1990) Era 80-an dan 90-an menjadi masa penting di mana elemen Blues mulai diperkenalkan ke pasar mainstream dengan kemasan yang lebih radio-friendly. Slank adalah katalisator utama di era 90-an. Meskipun mereka band Rock, lagu-lagu seperti Blues Males memperkenalkan gaya bernyanyi slur dan struktur blues yang urakan kepada jutaan anak muda Indonesia. Di kancah yang lebih puriis, muncul Time Band dan tokoh-tokoh seperti Oding Nasution dan Donny Suhendra yang konsisten memainkan Blues di sirkuit kafe dan pub Jakarta, menjaga nyala api genre ini tetap hidup di kalangan komunitas musisi. 3. Keemasan Komunitas & Pengakuan Global (2000–2015) Awal milenium adalah masa keemasan panggung Blues Indonesia. Berdirinya InaBlues (Indonesia Blues Association) menjadi wadah yang solid. Puncaknya adalah penyelenggaraan Jakarta International Blues Festival yang rutin mendatangkan legenda dunia. Pada era ini, Gugun Blues Shelter (GBS) muncul sebagai ikon modern. Mereka tidak hanya jago kandang, tapi menembus panggung dunia (bermain di Hyde Park, London). GBS membuktikan bahwa musisi Indonesia mampu memainkan Modern Blues-Rock dengan kualitas internasional. Selain itu, muncul Adrian Adioetomo yang berani mengambil jalur Delta Blues akustik dengan gitar dobro, memberikan edukasi bahwa Blues tidak melulu soal distorsi gitar listrik. 4. Regenerasi dan Era Digital (2016–2020) Tren musik dunia bergeser ke arah elektronik, namun Blues di Indonesia menemukan jalannya sendiri. Muncul nama-nama seperti Ginda Bestari dan Kelompok Penerbang Roket (yang meski rock, sangat kental nuansa blues-nya). Era ini ditandai dengan pola konsumsi digital. Musisi Blues mulai memanfaatkan YouTube dan Spotify untuk menjangkau pendengar yang lebih muda, melepaskan ketergantungan dari label besar. 5. Blues di Tahun 2025: Niche yang Eksklusif Memasuki tahun 2025, musik Blues di Indonesia telah berevolusi menjadi genre "High-End Niche". Ekosistem: Blues tidak lagi berharap menjadi pop. Ia hidup subur di Hi-Fi Bars, Listening Rooms, dan festival terkurasi di Jakarta, Bandung, dan Bali. Fusi Genre: Batas antara Blues, Neo-Soul, dan Jazz semakin kabur. Musisi muda di tahun 2025 cenderung memainkan "Hybrid Blues"—mencampurkan lick gitar blues tradisional dengan beat Lo-Fi atau R&B modern. Pasar: Penikmatnya adalah kelas menengah ke atas dan musisi idealis. Blues dianggap sebagai musik yang menuntut apresiasi musikalitas tinggi. Meski tidak merajai tangga lagu viral TikTok, Blues di tahun 2025 tetap dihormati sebagai "Guru" dari segala musik modern di Indonesia. Seperti kata pepatah lama musisi: Blues is the roots, the rest is the fruits. Daftar Referensi Kredibel (Sources): Sakrie, Denny. (2015). 100 Tahun Musik Indonesia. GagasMedia. (Buku "kitab suci" sejarah musik Indonesia yang mencatat peran The Rollies dan perkembangan rock-blues). Rolling Stone Indonesia. (Arsip Edisi Cetak & Digital 2005-2017). Feature Articles: Gugun Blues Shelter & Sejarah InaBlues. (Sumber utama jurnalisme musik yang mendokumentasikan era festival blues). KS, Theodore. (Pengamat Musik Senior). Artikel-artikelnya di Kompas sering membahas evolusi komunitas musik spesifik (Jazz dan Blues) di Indonesia. WartaJazz.com. (Arsip Berita). Dokumentasi mengenai penyelenggaraan Jakarta Blues Festival dan aktivitas komunitas InaBlues yang beririsan dengan komunitas Jazz. Situs Resmi Gugun Blues Shelter & Interview Arsip. (Untuk validasi pencapaian internasional musisi Blues Indonesia).
    Like
    Wow
    3
    0 Comentários 0 Compartilhamentos 139 Visualizações
MusiXzen https://musixzen.com