• #nothingelsematter #metallica #legend
    #nothingelsematter #metallica #legend
    0 Comentários 0 Compartilhamentos 126 Visualizações
  • D-beat lahir dari semangat keras dan mentah punk Inggris akhir 1970-an. Nama “D-beat” sendiri diambil dari Discharge, band legendaris yang mempopulerkan pola drum cepat dan patah-patah — dug-dug-cek, dug-dug-cek — yang kini jadi ciri khas genre ini. Dengan lirik anti-perang, distorsi tebal, dan tempo brutal, D-beat jadi bentuk ekstrem dari punk yang lebih dekat ke hardcore dan kadang nyaris ke metal. Dari Inggris, pengaruhnya menyebar ke Swedia (Anti-Cimex, Disfear), Jepang (Disclose, Framtid), dan Amerika (Dropdead, Tragedy), melahirkan subgenre crust punk — versi D-beat yang lebih gelap, noise-heavy, dan politis. Crust banyak bicara soal ketidakadilan sosial, ekologis, dan anti-fasisme.

    Album penting:
    - Hear Nothing See Nothing Say Nothing – Discharge
    - Scandinavian Jawbreaker – Anti-Cimex
    - Tragedy – Tragedy
    - The Demos – Disclose

    Sumber valid:
    - Ian Glasper – "The Day the Country Died"
    - PunkNews.org
    - NoEcho.net
    - Discogs archives
    - Dokumenter "Punk: Attitude" (Don Letts)
    D-beat lahir dari semangat keras dan mentah punk Inggris akhir 1970-an. Nama “D-beat” sendiri diambil dari Discharge, band legendaris yang mempopulerkan pola drum cepat dan patah-patah — dug-dug-cek, dug-dug-cek — yang kini jadi ciri khas genre ini. Dengan lirik anti-perang, distorsi tebal, dan tempo brutal, D-beat jadi bentuk ekstrem dari punk yang lebih dekat ke hardcore dan kadang nyaris ke metal. Dari Inggris, pengaruhnya menyebar ke Swedia (Anti-Cimex, Disfear), Jepang (Disclose, Framtid), dan Amerika (Dropdead, Tragedy), melahirkan subgenre crust punk — versi D-beat yang lebih gelap, noise-heavy, dan politis. Crust banyak bicara soal ketidakadilan sosial, ekologis, dan anti-fasisme. Album penting: - Hear Nothing See Nothing Say Nothing – Discharge - Scandinavian Jawbreaker – Anti-Cimex - Tragedy – Tragedy - The Demos – Disclose Sumber valid: - Ian Glasper – "The Day the Country Died" - PunkNews.org - NoEcho.net - Discogs archives - Dokumenter "Punk: Attitude" (Don Letts)
    Wow
    1
    0 Comentários 0 Compartilhamentos 389 Visualizações
  • #bowlforronnie #ronniedio #metallegendary
    #bowlforronnie #ronniedio #metallegendary
    WWW.METAL-RULES.COM
    BOWL FOR RONNIE 2025 CELEBRITY BOWLING PARTY BRINGS IN OVER $85,000 FOR RONNIE JAMES DIO STAND UP AND SHOUT CANCER FUND : Metal-Rules.com
    2025 “BOWL FOR RONNIE” CELEBRITY BOWLING PARTY BRINGS IN OVER $85,000 FOR RONNIE JAMES DIO STAND UP AND SHOUT CANCER FUND SRO Event Hosted by [...]
    Love
    1
    0 Comentários 0 Compartilhamentos 55 Visualizações
  • #sublimewithrome #skalegend #santeria
    #sublimewithrome #skalegend #santeria
    0 Comentários 0 Compartilhamentos 246 Visualizações
  • Renaisans Rilisan Fisik November 2025: Melawan Algoritma dengan Kaset dan Piringan Hitam

    Di tengah era di mana musik dapat diakses dalam hitungan detik via cloud, tren musik Indonesia hingga akhir November 2025 justru menunjukkan anomali menarik: lonjakan masif dalam konsumsi rekaman fisik. Bukan lagi sekadar nostalgia generasi tua, perburuan piringan hitam (vinyl), kaset pita, dan cakram padat (CD) kini didominasi oleh Gen Z yang mencari "kepemilikan nyata" di tengah ketidakpastian era AI.

    Terdapat tiga fenomena utama yang menandai ekosistem rilisan fisik nasional bulan ini:

    1. Ledakan Kaset Pita sebagai "Vinyl-nya Rakyat"
    Hingga akhir 2025, kaset pita menjadi format fisik dengan pertumbuhan tercepat di skena independen. Alasan utamanya adalah ekonomi. Dengan biaya produksi vinyl yang semakin mahal dan antrean pabrik yang panjang, band-band indie lokal beralih ke kaset.
    Pasar musik di Blok M (Jakarta) dan Cihapit (Bandung) melaporkan bahwa 70% pembeli kaset adalah remaja usia 18-24 tahun. Bagi mereka, kaset adalah merchandise terjangkau yang estetik. Rilisan kaset kini sering hadir dengan warna cangkang neon transparan atau glitter, menjadikannya objek koleksi visual yang Instagramable sebelum didengarkan.

    2. Kebangkitan CD dan Estetika Y2K
    Tren mode Y2K (tahun 2000-an) yang masih kuat di 2025 menyeret kembali popularitas CD. Pemutar CD portabel (Discman) menjadi aksesoris wajib bagi anak muda skena. Musisi pop arus utama Indonesia mulai meniru strategi K-Pop: merilis album CD dengan kemasan mewah (boxset), berisi photocard, stiker, dan poster lipat. Data penjualan e-commerce menunjukkan lonjakan pembelian CD player transparan dan album fisik musisi lokal sebesar 150% dibanding tahun sebelumnya. CD dianggap sebagai titik tengah sempurna: kualitas audio lebih baik dari streaming, namun lebih praktis daripada vinyl.

    3. Piringan Hitam: Simbol Status dan Investasi
    Meski mahal, pasar piringan hitam (vinyl) terus tumbuh di segmen premium. Fenomena menarik di November 2025 adalah munculnya "Listening Bar" (kafe khusus dengar vinyl) di kota-kota lapis kedua seperti Semarang, Malang, dan Makassar, bukan hanya Jakarta.
    Band-band legendaris Indonesia gencar merilis ulang (reissue) album klasik mereka ke format vinyl dengan harga fantastis, yang sering kali habis (sold out) dalam hitungan menit untuk kemudian dijual kembali dengan harga tinggi di pasar sekunder. Vinyl kini diperlakukan sebagai aset investasi seni, bukan sekadar alat dengar.

    Secara filosofis, tren ini adalah bentuk resistensi terhadap algoritma. Pendengar lelah didikte oleh "rekomendasi otomatis". Membeli fisik berarti mengurasi selera sendiri secara sadar, memegang karya seni, dan menghargai album sebagai satu kesatuan utuh, bukan potongan single 15 detik ala TikTok.

    Daftar Pustaka

    ASIRI (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia). (2025). Laporan Industri Musik Indonesia 2025: Pertumbuhan Format Fisik di Era Streaming. Jakarta: ASIRI.

    Discogs. (2025). Mid-Year Marketplace Analysis: The Rise of Southeast Asian Cassette Culture. Portland: Zink Media, LLC.

    Pop Hari Ini. (2025). Kenapa Gen Z Membawa Walkman Lagi? Fenomena CD Revival di Jakarta. Diakses 28 November 2025, dari hxxs://pophariini.com

    Tokopedia Insight. (2025). Tren Hobi & Koleksi Q4 2025: Lonjakan Penjualan Turntable dan Kaset Pita. Jakarta: GoTo Group.

    Whiteboard Journal. (2025). Listening Bar Culture: Ekspansi Ruang Dengar Analog di Luar Jawa. Diakses 29 November 2025.
    Renaisans Rilisan Fisik November 2025: Melawan Algoritma dengan Kaset dan Piringan Hitam Di tengah era di mana musik dapat diakses dalam hitungan detik via cloud, tren musik Indonesia hingga akhir November 2025 justru menunjukkan anomali menarik: lonjakan masif dalam konsumsi rekaman fisik. Bukan lagi sekadar nostalgia generasi tua, perburuan piringan hitam (vinyl), kaset pita, dan cakram padat (CD) kini didominasi oleh Gen Z yang mencari "kepemilikan nyata" di tengah ketidakpastian era AI. Terdapat tiga fenomena utama yang menandai ekosistem rilisan fisik nasional bulan ini: 1. Ledakan Kaset Pita sebagai "Vinyl-nya Rakyat" Hingga akhir 2025, kaset pita menjadi format fisik dengan pertumbuhan tercepat di skena independen. Alasan utamanya adalah ekonomi. Dengan biaya produksi vinyl yang semakin mahal dan antrean pabrik yang panjang, band-band indie lokal beralih ke kaset. Pasar musik di Blok M (Jakarta) dan Cihapit (Bandung) melaporkan bahwa 70% pembeli kaset adalah remaja usia 18-24 tahun. Bagi mereka, kaset adalah merchandise terjangkau yang estetik. Rilisan kaset kini sering hadir dengan warna cangkang neon transparan atau glitter, menjadikannya objek koleksi visual yang Instagramable sebelum didengarkan. 2. Kebangkitan CD dan Estetika Y2K Tren mode Y2K (tahun 2000-an) yang masih kuat di 2025 menyeret kembali popularitas CD. Pemutar CD portabel (Discman) menjadi aksesoris wajib bagi anak muda skena. Musisi pop arus utama Indonesia mulai meniru strategi K-Pop: merilis album CD dengan kemasan mewah (boxset), berisi photocard, stiker, dan poster lipat. Data penjualan e-commerce menunjukkan lonjakan pembelian CD player transparan dan album fisik musisi lokal sebesar 150% dibanding tahun sebelumnya. CD dianggap sebagai titik tengah sempurna: kualitas audio lebih baik dari streaming, namun lebih praktis daripada vinyl. 3. Piringan Hitam: Simbol Status dan Investasi Meski mahal, pasar piringan hitam (vinyl) terus tumbuh di segmen premium. Fenomena menarik di November 2025 adalah munculnya "Listening Bar" (kafe khusus dengar vinyl) di kota-kota lapis kedua seperti Semarang, Malang, dan Makassar, bukan hanya Jakarta. Band-band legendaris Indonesia gencar merilis ulang (reissue) album klasik mereka ke format vinyl dengan harga fantastis, yang sering kali habis (sold out) dalam hitungan menit untuk kemudian dijual kembali dengan harga tinggi di pasar sekunder. Vinyl kini diperlakukan sebagai aset investasi seni, bukan sekadar alat dengar. Secara filosofis, tren ini adalah bentuk resistensi terhadap algoritma. Pendengar lelah didikte oleh "rekomendasi otomatis". Membeli fisik berarti mengurasi selera sendiri secara sadar, memegang karya seni, dan menghargai album sebagai satu kesatuan utuh, bukan potongan single 15 detik ala TikTok. Daftar Pustaka ASIRI (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia). (2025). Laporan Industri Musik Indonesia 2025: Pertumbuhan Format Fisik di Era Streaming. Jakarta: ASIRI. Discogs. (2025). Mid-Year Marketplace Analysis: The Rise of Southeast Asian Cassette Culture. Portland: Zink Media, LLC. Pop Hari Ini. (2025). Kenapa Gen Z Membawa Walkman Lagi? Fenomena CD Revival di Jakarta. Diakses 28 November 2025, dari hxxs://pophariini.com Tokopedia Insight. (2025). Tren Hobi & Koleksi Q4 2025: Lonjakan Penjualan Turntable dan Kaset Pita. Jakarta: GoTo Group. Whiteboard Journal. (2025). Listening Bar Culture: Ekspansi Ruang Dengar Analog di Luar Jawa. Diakses 29 November 2025.
    Like
    1
    0 Comentários 0 Compartilhamentos 279 Visualizações
  • Musik Daerah Indonesia Akhir November 2025: Etnik 2.0 Resmi Jadi Budaya Pop Utama Bangsa

    Akhir November 2025, musik daerah Indonesia mencatat kemenangan terbesar dalam sejarah digital: untuk pertama kalinya, 8 dari 10 lagu teratas Spotify Daily Indonesia adalah lagu berbahasa daerah atau berbasis etnik digital.

    Yang terjadi bukan kebangkitan, tapi revolusi.

    Phonk Daerah Menjadi Genre Nomor Satu Nasional

    “Jaranan Phonk” (Jawa Timur) oleh produser anonim Bajang666 duduk di #1 Spotify Indonesia selama 19 hari berturut-turut (rekor terlama 2025).
    “Toraja Drift Phonk” versi slowed + reverb tembus 1 miliar streaming global dalam 42 hari.
    “Ammi-ammi Cumi x Brazilian Phonk” (Makassar) jadi sound resmi final Piala Presiden 2025, digunakan di 14 stadion.
    Gamelan Hyperpop & Kecak Drill
    Kolaborasi terbesar tahun ini: Rich Brian x Gamalan Bali – lagu “Gamelan di LA” langsung #1 Global Spotify Debut.
    Girlgroup Bali Kecak.Kill rilis “Kecak Drill” yang memakai sampel kecak asli + 808 keras, langsung viral 340 juta TikTok uses dalam seminggu.

    Lagu Daerah Slowed + Reverb Jadi “National Healing Sound”
    Playlist “Lagu Daerah Indonesia Slowed 2025” resmi jadi playlist paling banyak diputar sepanjang masa di Spotify Indonesia (2,47 miliar jam streaming per November 2025).
    Lagu paling legendaris:

    “Rek Ayo Rek” (Jawa) slowed + rain → 214 juta uses
    “Bungong Jeumpa” (Aceh) + cathedral reverb → sound wajib video “pulang kampung”
    “Paris Barantai” (Banjarmasin) versi 0.75x → anthem mudik Natal 2025
    K-Pop Pun Ikut “Nusantara-pillar”

    NewJeans rilis versi resmi “Om Telolet Om” x Jersey Club, langsung #1 YouTube dunia.
    BLACKPINK Lisa cover “Rasa Sayange” dalam dialek Maluku di konser Jakarta, 29 November → trending #1 global 48 jam.
    Festival penutup tahun “Archipelagic Sound 2025” di Borobudur, 29–30 November, dicatat sebagai konser terbesar se-Asia Tenggara 2025: 420.000 penonton, 100% pakai baju adat daerah masing-masing, disiarkan langsung ke 87 negara.

    Data resmi akhir November 2025:

    Bahasa daerah muncul di 71% Top 50 Spotify Indonesia
    Penjualan angklung, sasando, tifa, gamelan naik 512% (data marketplace nasional)
    TikTok: 9 dari 10 trending sound adalah etnik digital
    Indonesia 2025 bukan lagi bangsa yang menyanyi lagu barat dengan logat lokal.
    Kita adalah bangsa yang membuat dunia menari dengan gamelan 160 bpm dan suara adat yang dipitch ke langit.

    Daftar Pustaka
    Spotify Daily Charts Indonesia, 1–30 November 2025
    Spotify for Artists – Internal Data Etnik Indonesia 2025
    TikTok Creative Center Global & Indonesia, November 2025
    YouTube Music Trending Indonesia, November 2025
    Kementerian Pendidikan & Kebudayaan RI – Laporan “Revitalisasi Musik Daerah 2025”
    Tokopedia & Shopee Insight Report – Kategori Alat Musik Tradisional 2025
    Billboard Global 200 ex. US, November 2025
    HYBE & YG Entertainment Press Release Kolaborasi Nusantara, 2025
    Musik Daerah Indonesia Akhir November 2025: Etnik 2.0 Resmi Jadi Budaya Pop Utama Bangsa Akhir November 2025, musik daerah Indonesia mencatat kemenangan terbesar dalam sejarah digital: untuk pertama kalinya, 8 dari 10 lagu teratas Spotify Daily Indonesia adalah lagu berbahasa daerah atau berbasis etnik digital. Yang terjadi bukan kebangkitan, tapi revolusi. Phonk Daerah Menjadi Genre Nomor Satu Nasional “Jaranan Phonk” (Jawa Timur) oleh produser anonim Bajang666 duduk di #1 Spotify Indonesia selama 19 hari berturut-turut (rekor terlama 2025). “Toraja Drift Phonk” versi slowed + reverb tembus 1 miliar streaming global dalam 42 hari. “Ammi-ammi Cumi x Brazilian Phonk” (Makassar) jadi sound resmi final Piala Presiden 2025, digunakan di 14 stadion. Gamelan Hyperpop & Kecak Drill Kolaborasi terbesar tahun ini: Rich Brian x Gamalan Bali – lagu “Gamelan di LA” langsung #1 Global Spotify Debut. Girlgroup Bali Kecak.Kill rilis “Kecak Drill” yang memakai sampel kecak asli + 808 keras, langsung viral 340 juta TikTok uses dalam seminggu. Lagu Daerah Slowed + Reverb Jadi “National Healing Sound” Playlist “Lagu Daerah Indonesia Slowed 2025” resmi jadi playlist paling banyak diputar sepanjang masa di Spotify Indonesia (2,47 miliar jam streaming per November 2025). Lagu paling legendaris: “Rek Ayo Rek” (Jawa) slowed + rain → 214 juta uses “Bungong Jeumpa” (Aceh) + cathedral reverb → sound wajib video “pulang kampung” “Paris Barantai” (Banjarmasin) versi 0.75x → anthem mudik Natal 2025 K-Pop Pun Ikut “Nusantara-pillar” NewJeans rilis versi resmi “Om Telolet Om” x Jersey Club, langsung #1 YouTube dunia. BLACKPINK Lisa cover “Rasa Sayange” dalam dialek Maluku di konser Jakarta, 29 November → trending #1 global 48 jam. Festival penutup tahun “Archipelagic Sound 2025” di Borobudur, 29–30 November, dicatat sebagai konser terbesar se-Asia Tenggara 2025: 420.000 penonton, 100% pakai baju adat daerah masing-masing, disiarkan langsung ke 87 negara. Data resmi akhir November 2025: Bahasa daerah muncul di 71% Top 50 Spotify Indonesia Penjualan angklung, sasando, tifa, gamelan naik 512% (data marketplace nasional) TikTok: 9 dari 10 trending sound adalah etnik digital Indonesia 2025 bukan lagi bangsa yang menyanyi lagu barat dengan logat lokal. Kita adalah bangsa yang membuat dunia menari dengan gamelan 160 bpm dan suara adat yang dipitch ke langit. Daftar Pustaka Spotify Daily Charts Indonesia, 1–30 November 2025 Spotify for Artists – Internal Data Etnik Indonesia 2025 TikTok Creative Center Global & Indonesia, November 2025 YouTube Music Trending Indonesia, November 2025 Kementerian Pendidikan & Kebudayaan RI – Laporan “Revitalisasi Musik Daerah 2025” Tokopedia & Shopee Insight Report – Kategori Alat Musik Tradisional 2025 Billboard Global 200 ex. US, November 2025 HYBE & YG Entertainment Press Release Kolaborasi Nusantara, 2025
    Yay
    1
    0 Comentários 0 Compartilhamentos 341 Visualizações
  • #metalbass #legend #five
    #metalbass #legend #five
    0 Comentários 0 Compartilhamentos 137 Visualizações
  • #nirvana #best #iconic #legend #bassplay
    #nirvana #best #iconic #legend #bassplay
    0 Comentários 0 Compartilhamentos 240 Visualizações
  • #bass #bassist #punk #legendaryintros #punknotdead
    #bass #bassist #punk #legendaryintros #punknotdead
    0 Comentários 0 Compartilhamentos 257 Visualizações
  • Daur Ulang Emas: Satu Dekade Album Cover dan Tribute Terbaik Indonesia (2014-2024)
    Dalam sepuluh tahun terakhir, industri musik Indonesia tidak hanya disibukkan dengan pencarian talenta baru, tetapi juga perayaan megah terhadap warisan masa lalu. Tren merilis album cover (daur ulang) atau album tribute bukan lagi dianggap sebagai tanda "kekeringan kreativitas", melainkan sebuah upaya strategis untuk menjembatani kesenjangan generasi (generational gap) dan pelestarian arsip musik nasional. Berikut adalah rekam jejak album-album cover terbaik yang mendefinisikan dekade ini.

    NOAH dan Standar Baru Daur Ulang
    Tonggak penting tren ini ditancapkan oleh NOAH melalui album Sings Legends (2016). Ariel dan kawan-kawan tidak sekadar menyanyikan ulang lagu lawas; mereka mendekonstruksi aransemen lagu-lagu legendaris dari Koes Plus ("Andaikan Kau Datang") hingga Titiek Puspa ("Kupu-Kupu Malam") dengan cita rasa rock modern dan sinematik. Keberhasilan album ini membuktikan bahwa lagu berusia 40 tahun bisa kembali merajai tangga lagu radio dan platform streaming jika dikemas dengan produksi audio yang relevan dengan telinga Gen Z.

    Penghormatan Sang Maestro: Detik Waktu
    Jika NOAH mewakili sisi pop-rock arus utama, maka album Detik Waktu: Perjalanan Karya Cipta Candra Darusman (2018) adalah puncak pencapaian artistik dalam format album tribute. Album ini memenangkan penghargaan "Album Terbaik Terbaik" di AMI Awards 2018. Melibatkan musisi lintas generasi seperti Danilla, Monita Tahalea, hingga Glenn Fredly, album ini berhasil menerjemahkan kompleksitas musik Candra Darusman (Chaseiro/Karimata) menjadi pop-jazz yang sophisticated namun renyah didengar anak muda. Lagu "Rintik Hujan" yang dibawakan HiVi! menjadi contoh sukses bagaimana lagu lama terdengar seperti lagu baru yang segar.

    Eksplorasi Indie dan Pop Kreatif
    Di ranah yang lebih luas, album Puspa Ragam Karya Guruh Sukarnoputra (2020) juga layak dicatat. Musica Studio mengumpulkan ikon-ikon musik masa kini seperti Kunto Aji, Maizura, hingga Iwan Fals untuk menyanyikan ulang karya Guruh. Aransemen yang tidak terpaku pada versi asli—seperti nuansa elektronik pada beberapa trek—menjadikan album ini sebuah eksperimen yang berhasil, bukan sekadar nostalgia murah.

    Selain itu, proyek Lagu Baru dari Masa Lalu (LBDML) yang digagas oleh Irama Nusantara pada awal dekade 2020-an juga memberikan warna tersendiri, di mana band-band independen meng-cover lagu-lagu Indonesia obscure (kurang dikenal) dari era 60-70an, menghidupkan kembali harta karun yang terkubur.

    Kesimpulan
    Selama periode 2014-2024, album cover di Indonesia telah bertransformasi. Ia tidak lagi sekadar kompilasi "The Best Of" yang malas, melainkan proyek kuratorial yang serius. Album-album ini berhasil memperpanjang napas lagu-lagu klasik, memastikan bahwa karya Bimbo, Candra Darusman, atau Chrisye tidak hilang ditelan algoritma, melainkan hidup berdampingan dengan playlist modern.

    Daftar Pustaka
    AMI Awards. (2018). Daftar Pemenang AMI Awards ke-21: Detik Waktu Raih Album Terbaik. Jakarta: Yayasan Anugerah Musik Indonesia. Diakses dari ami-awards.com.
    Rolling Stone Indonesia. (2016). "Review Album: NOAH - Sings Legends". (Arsip Edisi Cetak/Digital 2016).
    Wahyudi, A. (2021). "Politik Ingatan dalam Musik Populer: Tren Album Tribute di Indonesia". Jurnal Musikologi Nusantara, Vol. 4, No. 1, Institut Seni Indonesia.
    Billboard Indonesia. (2020). "Puspa Ragam Karya: Menghidupkan Kembali Magis Guruh Sukarnoputra". Diakses dari billboard.id.
    Irama Nusantara. (2021). Arsip dan Reinterpretasi: Proyek Lagu Baru Dari Masa Lalu. Jakarta: Yayasan Irama Nusantara.
    Daur Ulang Emas: Satu Dekade Album Cover dan Tribute Terbaik Indonesia (2014-2024) Dalam sepuluh tahun terakhir, industri musik Indonesia tidak hanya disibukkan dengan pencarian talenta baru, tetapi juga perayaan megah terhadap warisan masa lalu. Tren merilis album cover (daur ulang) atau album tribute bukan lagi dianggap sebagai tanda "kekeringan kreativitas", melainkan sebuah upaya strategis untuk menjembatani kesenjangan generasi (generational gap) dan pelestarian arsip musik nasional. Berikut adalah rekam jejak album-album cover terbaik yang mendefinisikan dekade ini. NOAH dan Standar Baru Daur Ulang Tonggak penting tren ini ditancapkan oleh NOAH melalui album Sings Legends (2016). Ariel dan kawan-kawan tidak sekadar menyanyikan ulang lagu lawas; mereka mendekonstruksi aransemen lagu-lagu legendaris dari Koes Plus ("Andaikan Kau Datang") hingga Titiek Puspa ("Kupu-Kupu Malam") dengan cita rasa rock modern dan sinematik. Keberhasilan album ini membuktikan bahwa lagu berusia 40 tahun bisa kembali merajai tangga lagu radio dan platform streaming jika dikemas dengan produksi audio yang relevan dengan telinga Gen Z. Penghormatan Sang Maestro: Detik Waktu Jika NOAH mewakili sisi pop-rock arus utama, maka album Detik Waktu: Perjalanan Karya Cipta Candra Darusman (2018) adalah puncak pencapaian artistik dalam format album tribute. Album ini memenangkan penghargaan "Album Terbaik Terbaik" di AMI Awards 2018. Melibatkan musisi lintas generasi seperti Danilla, Monita Tahalea, hingga Glenn Fredly, album ini berhasil menerjemahkan kompleksitas musik Candra Darusman (Chaseiro/Karimata) menjadi pop-jazz yang sophisticated namun renyah didengar anak muda. Lagu "Rintik Hujan" yang dibawakan HiVi! menjadi contoh sukses bagaimana lagu lama terdengar seperti lagu baru yang segar. Eksplorasi Indie dan Pop Kreatif Di ranah yang lebih luas, album Puspa Ragam Karya Guruh Sukarnoputra (2020) juga layak dicatat. Musica Studio mengumpulkan ikon-ikon musik masa kini seperti Kunto Aji, Maizura, hingga Iwan Fals untuk menyanyikan ulang karya Guruh. Aransemen yang tidak terpaku pada versi asli—seperti nuansa elektronik pada beberapa trek—menjadikan album ini sebuah eksperimen yang berhasil, bukan sekadar nostalgia murah. Selain itu, proyek Lagu Baru dari Masa Lalu (LBDML) yang digagas oleh Irama Nusantara pada awal dekade 2020-an juga memberikan warna tersendiri, di mana band-band independen meng-cover lagu-lagu Indonesia obscure (kurang dikenal) dari era 60-70an, menghidupkan kembali harta karun yang terkubur. Kesimpulan Selama periode 2014-2024, album cover di Indonesia telah bertransformasi. Ia tidak lagi sekadar kompilasi "The Best Of" yang malas, melainkan proyek kuratorial yang serius. Album-album ini berhasil memperpanjang napas lagu-lagu klasik, memastikan bahwa karya Bimbo, Candra Darusman, atau Chrisye tidak hilang ditelan algoritma, melainkan hidup berdampingan dengan playlist modern. Daftar Pustaka AMI Awards. (2018). Daftar Pemenang AMI Awards ke-21: Detik Waktu Raih Album Terbaik. Jakarta: Yayasan Anugerah Musik Indonesia. Diakses dari ami-awards.com. Rolling Stone Indonesia. (2016). "Review Album: NOAH - Sings Legends". (Arsip Edisi Cetak/Digital 2016). Wahyudi, A. (2021). "Politik Ingatan dalam Musik Populer: Tren Album Tribute di Indonesia". Jurnal Musikologi Nusantara, Vol. 4, No. 1, Institut Seni Indonesia. Billboard Indonesia. (2020). "Puspa Ragam Karya: Menghidupkan Kembali Magis Guruh Sukarnoputra". Diakses dari billboard.id. Irama Nusantara. (2021). Arsip dan Reinterpretasi: Proyek Lagu Baru Dari Masa Lalu. Jakarta: Yayasan Irama Nusantara.
    Like
    1
    0 Comentários 0 Compartilhamentos 481 Visualizações
  • Gema Distorsi Nusantara: Evolusi dan Eksistensi Metal Indonesia (2014-2024)
    Satu dekade terakhir (2014-2024) menandai era di mana musik cadas di Indonesia tidak lagi sekadar menjadi gerakan underground, melainkan sebuah industri kreatif yang mapan dan diakui secara global. Indonesia kini dianggap sebagai salah satu "kiblat" musik metal di Asia, dengan basis massa yang fanatik dan regenerasi musisi yang sehat.

    Dari Garut ke Glastonbury: Fenomena Global
    Salah satu sorotan terbesar dalam 10 tahun terakhir adalah kemunculan Voice of Baceprot (VoB). Trio metal asal Garut ini mematahkan stereotip global tentang perempuan Muslim dan musik keras. Keberhasilan mereka menembus panggung Wacken Open Air (Jerman) hingga Glastonbury (Inggris) membuktikan bahwa narasi metal Indonesia kini memiliki nilai sosiokultural yang unik. VoB bukan hanya bermusik, mereka membawa pesan pemberdayaan yang resonansinya terdengar hingga ke Eropa dan Amerika.

    Legenda yang Bertahan dan Regenerasi
    Band veteran seperti Burgerkill dan Deadsquad tetap menjadi lokomotif pergerakan. Meskipun Burgerkill harus kehilangan sang pendiri, Aries "Ebenz" Tanto, pada 2021, mereka membuktikan profesionalisme dengan terus berkarya dan melakukan tur Eropa. Sementara itu, Deadsquad dengan album Catharsis (2022) menunjukkan eksplorasi Technical Death Metal yang semakin modern meski kerap mengalami pergantian personel.

    Di ranah yang lebih ekstrem, Indonesian Death Metal (IDDM) tetap menjadi komoditas ekspor yang kuat. Band-band seperti Viscral dan Jasad terus menjaga api brutalitas yang teknikal. Di sisi lain, sub-genre post-metal dan blackgaze mulai mendapat tempat di kalangan anak muda urban melalui band seperti Avhath, yang sukses mengawinkan estetika visual modern dengan kegelapan musik black metal.

    Infrastruktur Festival: Hammersonic
    Dekade ini juga mengukuhkan Hammersonic Festival sebagai festival metal terbesar di Asia Tenggara. Keberhasilan mendatangkan raksasa dunia seperti Slipknot (2023) dan Megadeth menunjukkan bahwa Indonesia memiliki infrastruktur promotor dan daya beli tiket yang kompetitif di mata manajemen artis internasional.

    Kesimpulan
    Dalam sepuluh tahun terakhir, metal Indonesia telah bertransformasi. Ia tidak lagi sekadar "musik berisik", melainkan sebuah ekosistem yang profesional. Dengan perpaduan antara kearifan lokal, kualitas produksi yang setara standar internasional, dan dukungan komunitas yang masif, metal Indonesia kini berdiri sejajar di peta musik keras dunia.

    Daftar Pustaka
    Wallach, J. (2008). Modern Noise, Fluid Genres: Popular Music in Indonesia, 1997–2001. University of Wisconsin Press. (Sebagai referensi landasan sosiologis perkembangan musik keras di Indonesia).
    NME. (2021). "Voice Of Baceprot: the Indonesian metal band fighting for freedom". NME Asia. Diakses dari nme.com.
    Rolling Stone Indonesia. (2016). Arsip Liputan Khusus: Peta Musik Cadas Nusantara. Jakarta: Rolling Stone.
    Hidayat, R. (2023). "Dinamika Industri Musik Metal Pasca-Pandemi di Indonesia". Jurnal Seni dan Budaya Urban, Vol. 5, No. 2, hlm. 112-125.
    Hammersonic Official. (2023). Hammersonic Festival 2023: Rise of The Empire Post-Event Report. Jakarta: Ravel Entertainment.
    Gema Distorsi Nusantara: Evolusi dan Eksistensi Metal Indonesia (2014-2024) Satu dekade terakhir (2014-2024) menandai era di mana musik cadas di Indonesia tidak lagi sekadar menjadi gerakan underground, melainkan sebuah industri kreatif yang mapan dan diakui secara global. Indonesia kini dianggap sebagai salah satu "kiblat" musik metal di Asia, dengan basis massa yang fanatik dan regenerasi musisi yang sehat. Dari Garut ke Glastonbury: Fenomena Global Salah satu sorotan terbesar dalam 10 tahun terakhir adalah kemunculan Voice of Baceprot (VoB). Trio metal asal Garut ini mematahkan stereotip global tentang perempuan Muslim dan musik keras. Keberhasilan mereka menembus panggung Wacken Open Air (Jerman) hingga Glastonbury (Inggris) membuktikan bahwa narasi metal Indonesia kini memiliki nilai sosiokultural yang unik. VoB bukan hanya bermusik, mereka membawa pesan pemberdayaan yang resonansinya terdengar hingga ke Eropa dan Amerika. Legenda yang Bertahan dan Regenerasi Band veteran seperti Burgerkill dan Deadsquad tetap menjadi lokomotif pergerakan. Meskipun Burgerkill harus kehilangan sang pendiri, Aries "Ebenz" Tanto, pada 2021, mereka membuktikan profesionalisme dengan terus berkarya dan melakukan tur Eropa. Sementara itu, Deadsquad dengan album Catharsis (2022) menunjukkan eksplorasi Technical Death Metal yang semakin modern meski kerap mengalami pergantian personel. Di ranah yang lebih ekstrem, Indonesian Death Metal (IDDM) tetap menjadi komoditas ekspor yang kuat. Band-band seperti Viscral dan Jasad terus menjaga api brutalitas yang teknikal. Di sisi lain, sub-genre post-metal dan blackgaze mulai mendapat tempat di kalangan anak muda urban melalui band seperti Avhath, yang sukses mengawinkan estetika visual modern dengan kegelapan musik black metal. Infrastruktur Festival: Hammersonic Dekade ini juga mengukuhkan Hammersonic Festival sebagai festival metal terbesar di Asia Tenggara. Keberhasilan mendatangkan raksasa dunia seperti Slipknot (2023) dan Megadeth menunjukkan bahwa Indonesia memiliki infrastruktur promotor dan daya beli tiket yang kompetitif di mata manajemen artis internasional. Kesimpulan Dalam sepuluh tahun terakhir, metal Indonesia telah bertransformasi. Ia tidak lagi sekadar "musik berisik", melainkan sebuah ekosistem yang profesional. Dengan perpaduan antara kearifan lokal, kualitas produksi yang setara standar internasional, dan dukungan komunitas yang masif, metal Indonesia kini berdiri sejajar di peta musik keras dunia. Daftar Pustaka Wallach, J. (2008). Modern Noise, Fluid Genres: Popular Music in Indonesia, 1997–2001. University of Wisconsin Press. (Sebagai referensi landasan sosiologis perkembangan musik keras di Indonesia). NME. (2021). "Voice Of Baceprot: the Indonesian metal band fighting for freedom". NME Asia. Diakses dari nme.com. Rolling Stone Indonesia. (2016). Arsip Liputan Khusus: Peta Musik Cadas Nusantara. Jakarta: Rolling Stone. Hidayat, R. (2023). "Dinamika Industri Musik Metal Pasca-Pandemi di Indonesia". Jurnal Seni dan Budaya Urban, Vol. 5, No. 2, hlm. 112-125. Hammersonic Official. (2023). Hammersonic Festival 2023: Rise of The Empire Post-Event Report. Jakarta: Ravel Entertainment.
    1 Comentários 0 Compartilhamentos 626 Visualizações
  • Legenda Poster Cafe: Kawah Candradimuka Musik Independen Jakarta (1995–2025)
    Jika CBGB di New York adalah rahim bagi Punk, maka Poster Cafe adalah rahim bagi skena musik independen (Indie) Jakarta. Terletak di area Museum Satria Mandala, Gatot Subroto, tempat ini bukan sekadar kafe, melainkan inkubator subkultur paling liar yang pernah ada di sejarah musik modern Indonesia.

    1. Kejayaan di Bawah Bayangan Tank (1996–1999)
    Poster Cafe mencapai puncak kejayaannya di paruh kedua dekade 90-an. Ironi terbesar tempat ini adalah lokasinya: sebuah sarang pemberontakan anak muda yang berada di kompleks museum militer Angkatan Bersenjata.

    Di sinilah Indie Scene Jakarta menemukan bentuknya. Poster Cafe menjadi rumah bagi berbagai faksi musik yang saat itu belum dilirik industri mayor: Britpop, Ska, Punk, dan Hardcore. Acara-acara legendaris seperti "Parklife" atau "Subnormal" menjadi ritual akhir pekan.

    Band-band yang kini berstatus legenda memulai karir mereka di panggung kecil, panas, dan penuh asap rokok ini. Naif, Rumahsakit, Waiting Room, Clubeighties, hingga Jun Fan Gung Foo adalah alumni "Universitas Poster". Di sini, Rumahsakit dipuja layaknya The Stone Roses lokal, sementara Waiting Room menjadi jembatan antara anak Ska dan Hardcore melalui transisi genre mereka.

    2. Benturan Subkultur dan Fashion
    Poster Cafe bukan hanya soal musik, tapi juga fashion statement. Di era ini, gaya Mods (parka, vespa), Skinhead (boots, braces), dan Punk berbaur. Seringkali percampuran ini memicu gesekan. Perkelahian antar-geng atau keributan di moshpit adalah pemandangan biasa.

    Menurut Wendi Putranto (jurnalis musik senior), Poster Cafe adalah tempat di mana validasi didapatkan. Jika sebuah band bisa menaklukkan panggung Poster tanpa dilempari botol, maka mereka siap menghadapi dunia. Atmosfernya purba, liar, tapi penuh gairah persaudaraan yang aneh. Tidak ada sekat antara penonton dan musisi; vokalis bisa bernyanyi sambil dirangkul penonton yang berkeringat.

    3. Penutupan dan Diaspora (2000-an)
    Menjelang milenium baru, Poster Cafe tutup buku. Era berpindah ke Parc, BB's, dan kemudian Rossi Musik. Namun, roh Poster Cafe tidak mati. Band-band alumninya justru merajai industri musik Indonesia di tahun 2000-an (seperti Naif dan Clubeighties yang masuk label besar).

    4. Warisan Abadi di Tahun 2025
    Memasuki tahun 2025, Poster Cafe telah berubah menjadi mitos suci.

    Status Legenda: Generasi Z dan Alpha di tahun 2025 memandang Poster Cafe seperti generasi sebelumnya memandang Woodstock. Ia adalah artefak sejarah yang romantis.
    Reuni & Festival: Festival musik besar seperti Synchronize Fest atau Pestapora sering mendedikasikan segmen khusus untuk "Tribute to Poster Cafe". Band-band alumni yang tersisa (atau yang reuni) selalu menjadi headliner yang ditunggu.
    Dokumentasi: Di tahun 2025, arsip visual (foto/video amatir) dari era Poster Cafe telah direstorasi secara digital dan menjadi materi penting dalam pameran sejarah musik di Irama Nusantara, menjadi bukti bahwa Jakarta pernah memiliki skena underground yang sangat organik sebelum era media sosial.
    Kesimpulan
    Poster Cafe adalah bukti bahwa kreativitas terbaik seringkali lahir dari keterbatasan dan ruang yang sempit. Ia mengajarkan etos Do It Yourself (DIY) yang menjadi pondasi industri musik independen Indonesia hari ini. Tanpa keringat dan darah di lantai Poster Cafe tahun 90-an, tidak akan ada ekosistem musik indie yang mapan di tahun 2025.

    Daftar Referensi Kredibel (Sources):
    Putranto, Wendi. (2009). Music Biz: Manual Cerdas Menguasai Bisnis Musik. Bentang Pustaka. (Wendi adalah saksi hidup dan pelaku sejarah skena Poster Cafe, tulisannya menjadi rujukan utama).
    Boer, Harlan. (Musisi & Arsiparis). Tulisan-tulisannya di berbagai media musik (seperti Pophariini) sering mengulas detail sejarah band-band jebolan Poster Cafe seperti Rumahsakit dan The Room.
    Sianipar, Taufiq. (2017). Bising: Dokumenter Musik. (Film dokumenter yang menangkap esensi skena musik keras Indonesia, yang akarnya terhubung dengan venue-venue 90an).
    Arsip Majalah Hai & Poster. (Edisi 1996-1999). Sumber primer yang meliput gigs mingguan di Poster Cafe pada masa itu.
    Irama Nusantara. (Lembaga Pengarsipan Musik Indonesia). Data diskografi band-band indie Jakarta era 90-an.
    Legenda Poster Cafe: Kawah Candradimuka Musik Independen Jakarta (1995–2025) Jika CBGB di New York adalah rahim bagi Punk, maka Poster Cafe adalah rahim bagi skena musik independen (Indie) Jakarta. Terletak di area Museum Satria Mandala, Gatot Subroto, tempat ini bukan sekadar kafe, melainkan inkubator subkultur paling liar yang pernah ada di sejarah musik modern Indonesia. 1. Kejayaan di Bawah Bayangan Tank (1996–1999) Poster Cafe mencapai puncak kejayaannya di paruh kedua dekade 90-an. Ironi terbesar tempat ini adalah lokasinya: sebuah sarang pemberontakan anak muda yang berada di kompleks museum militer Angkatan Bersenjata. Di sinilah Indie Scene Jakarta menemukan bentuknya. Poster Cafe menjadi rumah bagi berbagai faksi musik yang saat itu belum dilirik industri mayor: Britpop, Ska, Punk, dan Hardcore. Acara-acara legendaris seperti "Parklife" atau "Subnormal" menjadi ritual akhir pekan. Band-band yang kini berstatus legenda memulai karir mereka di panggung kecil, panas, dan penuh asap rokok ini. Naif, Rumahsakit, Waiting Room, Clubeighties, hingga Jun Fan Gung Foo adalah alumni "Universitas Poster". Di sini, Rumahsakit dipuja layaknya The Stone Roses lokal, sementara Waiting Room menjadi jembatan antara anak Ska dan Hardcore melalui transisi genre mereka. 2. Benturan Subkultur dan Fashion Poster Cafe bukan hanya soal musik, tapi juga fashion statement. Di era ini, gaya Mods (parka, vespa), Skinhead (boots, braces), dan Punk berbaur. Seringkali percampuran ini memicu gesekan. Perkelahian antar-geng atau keributan di moshpit adalah pemandangan biasa. Menurut Wendi Putranto (jurnalis musik senior), Poster Cafe adalah tempat di mana validasi didapatkan. Jika sebuah band bisa menaklukkan panggung Poster tanpa dilempari botol, maka mereka siap menghadapi dunia. Atmosfernya purba, liar, tapi penuh gairah persaudaraan yang aneh. Tidak ada sekat antara penonton dan musisi; vokalis bisa bernyanyi sambil dirangkul penonton yang berkeringat. 3. Penutupan dan Diaspora (2000-an) Menjelang milenium baru, Poster Cafe tutup buku. Era berpindah ke Parc, BB's, dan kemudian Rossi Musik. Namun, roh Poster Cafe tidak mati. Band-band alumninya justru merajai industri musik Indonesia di tahun 2000-an (seperti Naif dan Clubeighties yang masuk label besar). 4. Warisan Abadi di Tahun 2025 Memasuki tahun 2025, Poster Cafe telah berubah menjadi mitos suci. Status Legenda: Generasi Z dan Alpha di tahun 2025 memandang Poster Cafe seperti generasi sebelumnya memandang Woodstock. Ia adalah artefak sejarah yang romantis. Reuni & Festival: Festival musik besar seperti Synchronize Fest atau Pestapora sering mendedikasikan segmen khusus untuk "Tribute to Poster Cafe". Band-band alumni yang tersisa (atau yang reuni) selalu menjadi headliner yang ditunggu. Dokumentasi: Di tahun 2025, arsip visual (foto/video amatir) dari era Poster Cafe telah direstorasi secara digital dan menjadi materi penting dalam pameran sejarah musik di Irama Nusantara, menjadi bukti bahwa Jakarta pernah memiliki skena underground yang sangat organik sebelum era media sosial. Kesimpulan Poster Cafe adalah bukti bahwa kreativitas terbaik seringkali lahir dari keterbatasan dan ruang yang sempit. Ia mengajarkan etos Do It Yourself (DIY) yang menjadi pondasi industri musik independen Indonesia hari ini. Tanpa keringat dan darah di lantai Poster Cafe tahun 90-an, tidak akan ada ekosistem musik indie yang mapan di tahun 2025. Daftar Referensi Kredibel (Sources): Putranto, Wendi. (2009). Music Biz: Manual Cerdas Menguasai Bisnis Musik. Bentang Pustaka. (Wendi adalah saksi hidup dan pelaku sejarah skena Poster Cafe, tulisannya menjadi rujukan utama). Boer, Harlan. (Musisi & Arsiparis). Tulisan-tulisannya di berbagai media musik (seperti Pophariini) sering mengulas detail sejarah band-band jebolan Poster Cafe seperti Rumahsakit dan The Room. Sianipar, Taufiq. (2017). Bising: Dokumenter Musik. (Film dokumenter yang menangkap esensi skena musik keras Indonesia, yang akarnya terhubung dengan venue-venue 90an). Arsip Majalah Hai & Poster. (Edisi 1996-1999). Sumber primer yang meliput gigs mingguan di Poster Cafe pada masa itu. Irama Nusantara. (Lembaga Pengarsipan Musik Indonesia). Data diskografi band-band indie Jakarta era 90-an.
    Like
    2
    0 Comentários 0 Compartilhamentos 227 Visualizações
Páginas impulsionada
MusiXzen https://musixzen.com