• #neverstopbelievinginrock #odinjkt #homebyodin #rock #live
    #neverstopbelievinginrock #odinjkt #homebyodin #rock #live
    WWW.INSTAGRAM.COM
    HOME | Managed by ODIN on Instagram: "NEVER STOP BELIEVING IN ROCK ⚑ Get ready for a powerful night where rock energy, passion, and pure performance take over the stage! Experience electrifying acts from: πŸ”₯ FEARLESS Band πŸ”₯ Ferdy Tahier πŸ”₯ Candra Kim & Mita Palupi πŸ”₯ Rocker Kasarunk πŸ”₯ Rivonly & Zarev A special gathering of musicians, creators, and rock lovers — all in one unforgettable night. This is where the spirit of rock lives on. 🀘πŸ”₯ πŸ“† 20 December 2025 ⏰ 5 PM – 12 AM πŸ“ HOME by ODIN, Sampoerna Strategic Square RSVP: 0811 828 66 91 #rock #homebyodin #fearless #fearlessband #jakartaevents #jakartaparty #rock #rockstyle"
    57 likes, 2 comments - odinjkt on December 13, 2025: "NEVER STOP BELIEVING IN ROCK ⚑ Get ready for a powerful night where rock energy, passion, and pure performance take over the stage! Experience electrifying acts from: πŸ”₯ FEARLESS Band πŸ”₯ Ferdy Tahier πŸ”₯ Candra Kim & Mita Palupi πŸ”₯ Rocker Kasarunk πŸ”₯ Rivonly & Zarev A special gathering of musicians, creators, and rock lovers — all in one unforgettable night. This is where the spirit of rock lives on. 🀘πŸ”₯ πŸ“† 20 December 2025 ⏰ 5 PM – 12 AM πŸ“ HOME by ODIN, Sampoerna Strategic Square RSVP: 0811 828 66 91 #rock #homebyodin #fearless #fearlessband #jakartaevents #jakartaparty #rock #rockstyle".
    0 Commenti 0 condivisioni 560 Views
  • Non hai l'autorizzazione per accedere a questa
  • #jazzsabbathlive #live #album
    #jazzsabbathlive #live #album
    WWW.METAL-RULES.COM
    JAZZ SABBATH's First Ever Live Album : Metal-Rules.com
    Jazz Sabbath’s first official live album ‘Jazz Sabbath Live’ will be released on 20 February.The trio, helmed by longtime Black Sabbath/Ozzy Osbourne keys and guitar [...]
    0 Commenti 0 condivisioni 225 Views


  • ---

    Sejarah Singkat Musik Blues:
    Blues lahir di akhir abad ke-19 dari komunitas Afrika-Amerika di Selatan AS, sebagai ekspresi penderitaan dan harapan lewat musik. Akar utamanya berasal dari spiritual, work songs, dan musik rakyat Afrika. Ciri khas blues adalah pola 12-bar, blue notes, improvisasi, dan tema kehidupan keras. Tokoh penting: Robert Johnson, Muddy Waters, B.B. King, dan Howlin' Wolf. Blues menjadi fondasi utama bagi jazz, R&B, dan rock.

    ---

    10 Album Blues Terbaik Sepanjang Masa:
    1. Kind of Blues Guitar – B.B. King
    2. Texas Flood – Stevie Ray Vaughan
    3. At Newport 1960 – Muddy Waters
    4. The Complete Recordings – Robert Johnson
    5. Hard Again – Muddy Waters
    6. Born Under a Bad Sign – Albert King
    7. Live at the Regal – B.B. King
    8. I Am the Blues – Willie Dixon
    9. Moanin’ in the Moonlight – Howlin’ Wolf
    10. Let It Bleed – The Rolling Stones (blues-rock crossover)

    ---

    Sumber kredibel:
    - The Blues Foundation (blues.org)
    - AllMusic Guide
    - Rolling Stone Magazine
    - "Deep Blues" by Robert Palmer (buku)
    - PBS: The Blues (Scorsese series)
    --- Sejarah Singkat Musik Blues: Blues lahir di akhir abad ke-19 dari komunitas Afrika-Amerika di Selatan AS, sebagai ekspresi penderitaan dan harapan lewat musik. Akar utamanya berasal dari spiritual, work songs, dan musik rakyat Afrika. Ciri khas blues adalah pola 12-bar, blue notes, improvisasi, dan tema kehidupan keras. Tokoh penting: Robert Johnson, Muddy Waters, B.B. King, dan Howlin' Wolf. Blues menjadi fondasi utama bagi jazz, R&B, dan rock. --- 10 Album Blues Terbaik Sepanjang Masa: 1. Kind of Blues Guitar – B.B. King 2. Texas Flood – Stevie Ray Vaughan 3. At Newport 1960 – Muddy Waters 4. The Complete Recordings – Robert Johnson 5. Hard Again – Muddy Waters 6. Born Under a Bad Sign – Albert King 7. Live at the Regal – B.B. King 8. I Am the Blues – Willie Dixon 9. Moanin’ in the Moonlight – Howlin’ Wolf 10. Let It Bleed – The Rolling Stones (blues-rock crossover) --- Sumber kredibel: - The Blues Foundation (blues.org) - AllMusic Guide - Rolling Stone Magazine - "Deep Blues" by Robert Palmer (buku) - PBS: The Blues (Scorsese series)
    0 Commenti 0 condivisioni 439 Views
  • Album Bon Jovi yang paling terkenal adalah "Slippery When Wet" (rilis tahun 1986).

    Album ini membawa mereka ke puncak ketenaran dunia dengan hits besar seperti:
    - "Livin' on a Prayer"
    - "You Give Love a Bad Name"
    - "Wanted Dead or Alive"

    "Slippery When Wet" adalah album terlaris mereka dan salah satu album rock paling ikonik tahun 80-an.
    Album Bon Jovi yang paling terkenal adalah "Slippery When Wet" (rilis tahun 1986). Album ini membawa mereka ke puncak ketenaran dunia dengan hits besar seperti: - "Livin' on a Prayer" - "You Give Love a Bad Name" - "Wanted Dead or Alive" "Slippery When Wet" adalah album terlaris mereka dan salah satu album rock paling ikonik tahun 80-an.
    0 Commenti 0 condivisioni 115 Views
  • #staticX #shadowzone #liveguitarcover
    #staticX #shadowzone #liveguitarcover
    Like
    1
    0 Commenti 0 condivisioni 511 Views
  • "Analog Purification": Pita Reel-to-Reel sebagai Simbol Status*

    Ketika rekaman digital (in-the-box) semakin mudah dan murah, musisi elit mencari cara untuk membedakan diri. Merekam menggunakan pita analog fisik (Reel-to-Reel) menjadi simbol status kemewahan baru di Jakarta Selatan.

    Biaya pita itu mahal dan prosesnya ribet (tidak bisa di-undo). Justru itu poinnya. Jika sebuah band merekam albumnya secara live di pita analog murni tanpa komputer, itu menunjukkan skill bermusik tingkat dewa dan modal yang kuat. Label "AAA" (Analog recording, mixing, mastering) di sampul album menjadi jaminan mutu bagi kaum audiophile snob yang kembali mendominasi pasar fisik.
    "Analog Purification": Pita Reel-to-Reel sebagai Simbol Status* Ketika rekaman digital (in-the-box) semakin mudah dan murah, musisi elit mencari cara untuk membedakan diri. Merekam menggunakan pita analog fisik (Reel-to-Reel) menjadi simbol status kemewahan baru di Jakarta Selatan. Biaya pita itu mahal dan prosesnya ribet (tidak bisa di-undo). Justru itu poinnya. Jika sebuah band merekam albumnya secara live di pita analog murni tanpa komputer, itu menunjukkan skill bermusik tingkat dewa dan modal yang kuat. Label "AAA" (Analog recording, mixing, mastering) di sampul album menjadi jaminan mutu bagi kaum audiophile snob yang kembali mendominasi pasar fisik.
    0 Commenti 0 condivisioni 282 Views
  • "Mall-Venue": Gentrifikasi Ruang Ritel Mati*

    Pusat perbelanjaan (Mall) di Jakarta dan Surabaya banyak yang sepi penyewa ritel akibat e-commerce. Menuju 2026, ruang kosong bekas department store ini disulap menjadi Live House atau venue musik.

    Ini solusi win-win. Mall butuh traffic anak muda, musisi butuh tempat ber-AC yang parkirnya luas dan akses transportasi umumnya gampang. Konser hardcore di bekas toko baju lantai 3 Plaza Blok M bukan lagi anomali, tapi norma baru. Akustiknya mungkin perlu peredam ekstra, tapi kenyamanan akses membuat "Mall Gigs" menjadi tren urban yang tak terelakkan.
    "Mall-Venue": Gentrifikasi Ruang Ritel Mati* Pusat perbelanjaan (Mall) di Jakarta dan Surabaya banyak yang sepi penyewa ritel akibat e-commerce. Menuju 2026, ruang kosong bekas department store ini disulap menjadi Live House atau venue musik. Ini solusi win-win. Mall butuh traffic anak muda, musisi butuh tempat ber-AC yang parkirnya luas dan akses transportasi umumnya gampang. Konser hardcore di bekas toko baju lantai 3 Plaza Blok M bukan lagi anomali, tapi norma baru. Akustiknya mungkin perlu peredam ekstra, tapi kenyamanan akses membuat "Mall Gigs" menjadi tren urban yang tak terelakkan.
    0 Commenti 0 condivisioni 410 Views
  • #theadams #powerpop #superliveID
    #theadams #powerpop #superliveID
    SUPERLIVE.ID
    Profil Lengkap The Adams: Awal Karir, Lagu, & Member
    Yuk kenalan lebih jauh dengan The Adams, band indie rock Indonesia! Dari awal karir, hingga perjalanan musik mereka yang konservatif tapi tetap seru!
    0 Commenti 0 condivisioni 228 Views
  • Kejenuhan Festival dan Bangkitnya "Tur Intim"*

    Industri festival musik di Indonesia sedang mengalami koreksi pasar yang brutal. Di tahun 2025, terlalu banyak festival batal, tiket mahal, dan lineup yang itu-itu saja (daur ulang). Penonton muntah.

    Prediksi untuk 2026: Band dan promotor cerdas akan beralih ke model "Micro-Touring". Daripada main di satu panggung besar festival dengan bayaran telat, mereka membuat tur mandiri di 5 kota kecil dengan kapasitas venue 300-500 orang, tapi tiketnya sold out dan pembayarannya tunai. Laporan APMI mengindikasikan pergeseran minat penonton ke gigs yang lebih intim dan eksklusif. Bisnis live music di 2026 adalah tentang experience, bukan scale. Lebih baik main di gudang penuh sesak yang energinya meledak, daripada main di lapangan bola yang setengah kosong.
    Kejenuhan Festival dan Bangkitnya "Tur Intim"* Industri festival musik di Indonesia sedang mengalami koreksi pasar yang brutal. Di tahun 2025, terlalu banyak festival batal, tiket mahal, dan lineup yang itu-itu saja (daur ulang). Penonton muntah. Prediksi untuk 2026: Band dan promotor cerdas akan beralih ke model "Micro-Touring". Daripada main di satu panggung besar festival dengan bayaran telat, mereka membuat tur mandiri di 5 kota kecil dengan kapasitas venue 300-500 orang, tapi tiketnya sold out dan pembayarannya tunai. Laporan APMI mengindikasikan pergeseran minat penonton ke gigs yang lebih intim dan eksklusif. Bisnis live music di 2026 adalah tentang experience, bukan scale. Lebih baik main di gudang penuh sesak yang energinya meledak, daripada main di lapangan bola yang setengah kosong.
    0 Commenti 0 condivisioni 223 Views
  • Discord adalah "Street Team" Digital*

    Lupakan algoritma Instagram yang menjengkelkan dan memaksa musisi jadi badut konten. Tren pemasaran musik paling powerful menuju 2026 adalah "Community Cultivation" di Discord atau Telegram.

    Musisi pintar di tahun ini tidak mengejar viral sesaat; mereka membangun "negara kecil". Mereka menjual keanggotaan VIP di server Discord di mana fans bisa melihat proses rekaman secara live atau memilih desain sampul album. Ini adalah monetisasi fandom tingkat tinggi. Patreon dan fitur subscription komunitas menjadi tulang punggung ekonomi musisi. Anda tidak butuh satu juta pendengar pasif; Anda butuh 1.000 orang fanatik yang rela membayar iuran bulanan di grup chat. Ini adalah kembalinya interaksi manusiawi yang tulus, jauh dari kepalsuan TikTok.
    Discord adalah "Street Team" Digital* Lupakan algoritma Instagram yang menjengkelkan dan memaksa musisi jadi badut konten. Tren pemasaran musik paling powerful menuju 2026 adalah "Community Cultivation" di Discord atau Telegram. Musisi pintar di tahun ini tidak mengejar viral sesaat; mereka membangun "negara kecil". Mereka menjual keanggotaan VIP di server Discord di mana fans bisa melihat proses rekaman secara live atau memilih desain sampul album. Ini adalah monetisasi fandom tingkat tinggi. Patreon dan fitur subscription komunitas menjadi tulang punggung ekonomi musisi. Anda tidak butuh satu juta pendengar pasif; Anda butuh 1.000 orang fanatik yang rela membayar iuran bulanan di grup chat. Ini adalah kembalinya interaksi manusiawi yang tulus, jauh dari kepalsuan TikTok.
    0 Commenti 0 condivisioni 159 Views
  • **Lebih Keras dari Musiknya: Fenomena Podcast Live di Panggung Indonesia 2026**

    Ada pemandangan ganjil di sebuah ruang pertunjukan di kawasan Cikini malam ini. Tiket terjual habis. Ratusan anak muda berdesakan. Tapi tidak ada set drum, tidak ada tumpukan amplifier Marshall. Di tengah panggung, hanya ada sebuah meja kayu, dua kursi, dua mikrofon *Shure*, dan segelas kopi. (Sebuah ilustrasi saja)

    Selamat datang di era di mana "obrolan" menjadi *rockstar* baru. Tahun 2026 di Indonesia menandai puncak evolusi format audio: Podcast Musik Live. Ini bukan lagi sekadar file mp3 yang menemani Anda terjebak macet di tol JORR; ini adalah teater intelektual.

    **Gen Z: Menuntut Kekacauan Tanpa Edit**

    Bagi Gen Z, podcast yang direkam di studio dan diedit rapi sudah terasa "plastik". Mereka menginginkan darah, keringat, dan kesalahan bicara yang nyata. Tren *Live Podcast* di tahun 2026 didorong oleh dahaga akan spontanitas.

    Di acara malam ini, podcaster musik favorit mereka tidak hanya mengulas album baru; mereka berdebat sengit, saling memotong pembicaraan, dan bahkan melibatkan penonton untuk naik ke panggung melakukan "roasting" terhadap selera musik sang pembawa acara.

    Mengacu pada data *Spotify Culture Next Report 2025-2026*, Gen Z Indonesia menunjukkan pergeseran minat yang masif dari konsumsi pasif ke "partisipatif audio". Mereka tidak mau hanya mendengar; mereka mau menjadi bagian dari narasi. Di panggung live, tidak ada tombol "pause" atau "edit". Jika podcaster salah ngomong, itu menjadi momen emas. Inilah *reality show* yang intelektual. Ketidaksempurnaan adalah daya tarik utamanya.

    **Milenial: Nostalgia dan "Liner Notes" Berjalan**

    Di sisi lain, bagi Milenial yang kini semakin mapan, *Podcast Live* adalah bentuk *nongkrong* yang naik kelas. Mereka rela membayar harga tiket setara konser festival untuk duduk diam mendengarkan bedah lirik atau sejarah musik 90-an selama dua jam.

    Bagi generasi ini, podcast musik live berfungsi sebagai "Liner Notes" (catatan sampul album) yang hidup. Di era streaming di mana konteks musik sering hilang, podcast live mengembalikan kedalaman itu. Mereka datang untuk mendengar cerita di balik lagu, gosip industri yang tidak berani diungkap di rekaman digital, dan analisis mendalam yang memuaskan sisi *nerd* mereka.

    Menurut proyeksi *PwC Global Entertainment & Media Outlook*, segmen "Live Experience" untuk format non-musik (termasuk *spoken word*) di Asia Tenggara mengalami pertumbuhan dua digit tahun ini. Milenial Indonesia mencari koneksi komunitas yang fisik. Bertemu sesama pendengar podcast di dunia nyata memberikan rasa validasi suku (*tribal validation*) yang tidak bisa diberikan oleh kolom komentar Instagram.

    **Format Hibrida: Musisi Sebagai Tamu, Bukan Dewa**

    Yang menarik di tahun 2026 adalah kaburnya batas antara konser dan *talkshow*. Dalam acara podcast live ini, musisi seringkali hadir. Tapi mereka tidak datang untuk main *full set*. Mereka datang untuk diwawancara, lalu menyanyikan satu lagu akustik yang rapuh di sela-sela obrolan.

    Ini menciptakan intimasi yang mustahil terjadi di festival musik besar. Penonton melihat musisi sebagai manusia biasa yang bisa tertawa dan bercerita, bukan dewa di atas panggung yang jauh.

    **Kesimpulan**

    Fenomena ini membuktikan bahwa di tengah gempuran teknologi visual dan *metaverse*, kekuatan suara manusia masih tak tertandingi. Orang Indonesia, pada dasarnya, adalah bangsa yang gemar bercerita dan berkumpul (*communal storytelling*).

    Podcast musik live di tahun 2026 hanyalah bentuk modern dari tradisi "lesehan" atau "angkringan", namun dengan tiket masuk dan *sound system* yang lebih baik. Kita tidak lagi hanya ingin mendengarkan lagunya; kita ingin mendengarkan jiwanya, perdebatannya, dan manusianya. Dan malam ini di Cikini, suara tawa dan tepuk tangan penonton terdengar lebih keras daripada *bass* lagu rock mana pun.

    ***
    *Referensi & Sumber Data:*
    1. *Spotify Culture Next Report (Edisi Southeast Asia) - Tren perilaku audio Gen Z.*
    2. *PwC Global Entertainment & Media Outlook - Proyeksi pertumbuhan live events non-musik.*
    3. *Noice / Suara Podcaster Indonesia - Laporan lanskap kreator audio lokal.*
    **Lebih Keras dari Musiknya: Fenomena Podcast Live di Panggung Indonesia 2026** Ada pemandangan ganjil di sebuah ruang pertunjukan di kawasan Cikini malam ini. Tiket terjual habis. Ratusan anak muda berdesakan. Tapi tidak ada set drum, tidak ada tumpukan amplifier Marshall. Di tengah panggung, hanya ada sebuah meja kayu, dua kursi, dua mikrofon *Shure*, dan segelas kopi. (Sebuah ilustrasi saja) Selamat datang di era di mana "obrolan" menjadi *rockstar* baru. Tahun 2026 di Indonesia menandai puncak evolusi format audio: Podcast Musik Live. Ini bukan lagi sekadar file mp3 yang menemani Anda terjebak macet di tol JORR; ini adalah teater intelektual. **Gen Z: Menuntut Kekacauan Tanpa Edit** Bagi Gen Z, podcast yang direkam di studio dan diedit rapi sudah terasa "plastik". Mereka menginginkan darah, keringat, dan kesalahan bicara yang nyata. Tren *Live Podcast* di tahun 2026 didorong oleh dahaga akan spontanitas. Di acara malam ini, podcaster musik favorit mereka tidak hanya mengulas album baru; mereka berdebat sengit, saling memotong pembicaraan, dan bahkan melibatkan penonton untuk naik ke panggung melakukan "roasting" terhadap selera musik sang pembawa acara. Mengacu pada data *Spotify Culture Next Report 2025-2026*, Gen Z Indonesia menunjukkan pergeseran minat yang masif dari konsumsi pasif ke "partisipatif audio". Mereka tidak mau hanya mendengar; mereka mau menjadi bagian dari narasi. Di panggung live, tidak ada tombol "pause" atau "edit". Jika podcaster salah ngomong, itu menjadi momen emas. Inilah *reality show* yang intelektual. Ketidaksempurnaan adalah daya tarik utamanya. **Milenial: Nostalgia dan "Liner Notes" Berjalan** Di sisi lain, bagi Milenial yang kini semakin mapan, *Podcast Live* adalah bentuk *nongkrong* yang naik kelas. Mereka rela membayar harga tiket setara konser festival untuk duduk diam mendengarkan bedah lirik atau sejarah musik 90-an selama dua jam. Bagi generasi ini, podcast musik live berfungsi sebagai "Liner Notes" (catatan sampul album) yang hidup. Di era streaming di mana konteks musik sering hilang, podcast live mengembalikan kedalaman itu. Mereka datang untuk mendengar cerita di balik lagu, gosip industri yang tidak berani diungkap di rekaman digital, dan analisis mendalam yang memuaskan sisi *nerd* mereka. Menurut proyeksi *PwC Global Entertainment & Media Outlook*, segmen "Live Experience" untuk format non-musik (termasuk *spoken word*) di Asia Tenggara mengalami pertumbuhan dua digit tahun ini. Milenial Indonesia mencari koneksi komunitas yang fisik. Bertemu sesama pendengar podcast di dunia nyata memberikan rasa validasi suku (*tribal validation*) yang tidak bisa diberikan oleh kolom komentar Instagram. **Format Hibrida: Musisi Sebagai Tamu, Bukan Dewa** Yang menarik di tahun 2026 adalah kaburnya batas antara konser dan *talkshow*. Dalam acara podcast live ini, musisi seringkali hadir. Tapi mereka tidak datang untuk main *full set*. Mereka datang untuk diwawancara, lalu menyanyikan satu lagu akustik yang rapuh di sela-sela obrolan. Ini menciptakan intimasi yang mustahil terjadi di festival musik besar. Penonton melihat musisi sebagai manusia biasa yang bisa tertawa dan bercerita, bukan dewa di atas panggung yang jauh. **Kesimpulan** Fenomena ini membuktikan bahwa di tengah gempuran teknologi visual dan *metaverse*, kekuatan suara manusia masih tak tertandingi. Orang Indonesia, pada dasarnya, adalah bangsa yang gemar bercerita dan berkumpul (*communal storytelling*). Podcast musik live di tahun 2026 hanyalah bentuk modern dari tradisi "lesehan" atau "angkringan", namun dengan tiket masuk dan *sound system* yang lebih baik. Kita tidak lagi hanya ingin mendengarkan lagunya; kita ingin mendengarkan jiwanya, perdebatannya, dan manusianya. Dan malam ini di Cikini, suara tawa dan tepuk tangan penonton terdengar lebih keras daripada *bass* lagu rock mana pun. *** *Referensi & Sumber Data:* 1. *Spotify Culture Next Report (Edisi Southeast Asia) - Tren perilaku audio Gen Z.* 2. *PwC Global Entertainment & Media Outlook - Proyeksi pertumbuhan live events non-musik.* 3. *Noice / Suara Podcaster Indonesia - Laporan lanskap kreator audio lokal.*
    0 Commenti 0 condivisioni 863 Views
Pagine in Evidenza
MusiXzen https://musixzen.com