• #parlemensk8 #underthebridge3 #showthelimit
    #parlemensk8 #underthebridge3 #showthelimit
    WWW.INSTAGRAM.COM
    Parlemen.sk8 on Instagram: "@underthebridgee_ Setelah bertapa 1000 tahun lamanya bersama pasukan inti, akhirnya kami sepakat untuk mengumumkan bahwa ritual event spektakuler tahunan kami yang ketiga akan segera dilaksanakan pada hari sabtu akhir pekan ini. Kami memanggil para prajurit, dan seluruh antek2nya diseluruh dunia untuk kembali mengikuti berbagai rintangan yang kayanya mah sulit dilakukan, serta agenda acara yang sudah kami susun serapih, dan semantap mungkin pokoknya mah gasskeun wae seru-seruan jangan sampe kewalahan apalagi kelewatan. Ingat tanggalnya, persiapkan fisik dan mental kalian guna melawan arus pergolakan yang ada didalam agenda maupun semesta, gunakan juga pakaian tempur terbaik kalian, dan Sampai jumpa di wednesday park nanti. SUPPORTED BY: @sectconspiracy @unitedhart @notbadclub_society @hammerstout.co @thisisprinciple @freast.growers @p.r.e.m.ss @concrete.jkt @cyray__ @unknown.services_ @indoskateshop @nexelskateshop @moleculeskateboards @suretstore @etaks.store @fellowskateboards @skatefellas.id @stagebeneath @racnalproject @snfl.id @wonderskateboarding @hokidoky_ @alschicken @riseskateschool @backslide.do @ocvitysap @graff.sb @eternal.0sixone MEDIA PARTER: @vasemedia @happenmagz @parlemen.sk8 @terasskate @spectrumunderground_ @7am.pictures #underthebridgevol3 #pushthelimit #skateboarding #skateboardingisfun #bythehomiesforthehomies #parlemensk8"
    62 likes, 3 comments - parlemen.sk8 on December 18, 2025: "@underthebridgee_ Setelah bertapa 1000 tahun lamanya bersama pasukan inti, akhirnya kami sepakat untuk mengumumkan bahwa ritual event spektakuler tahunan kami yang ketiga akan segera dilaksanakan pada hari sabtu akhir pekan ini. Kami memanggil para prajurit, dan seluruh antek2nya diseluruh dunia untuk kembali mengikuti berbagai rintangan yang kayanya mah sulit dilakukan, serta agenda acara yang sudah kami susun serapih, dan semantap mungkin pokoknya mah gasskeun wae seru-seruan jangan sampe kewalahan apalagi kelewatan. Ingat tanggalnya, persiapkan fisik dan mental kalian guna melawan arus pergolakan yang ada didalam agenda maupun semesta, gunakan juga pakaian tempur terbaik kalian, dan Sampai jumpa di wednesday park nanti. SUPPORTED BY: @sectconspiracy @unitedhart @notbadclub_society @hammerstout.co @thisisprinciple @freast.growers @p.r.e.m.ss @concrete.jkt @cyray__ @unknown.services_ @indoskateshop @nexelskateshop @moleculeskateboards @suretstore @etaks.store @fellowskateboards @skatefellas.id @stagebeneath @racnalproject @snfl.id @wonderskateboarding @hokidoky_ @alschicken @riseskateschool @backslide.do @ocvitysap @graff.sb @eternal.0sixone MEDIA PARTER: @vasemedia @happenmagz @parlemen.sk8 @terasskate @spectrumunderground_ @7am.pictures #underthebridgevol3 #pushthelimit #skateboarding #skateboardingisfun #bythehomiesforthehomies #parlemensk8".
    Like
    1
    0 Commentarii 0 Distribuiri 430 Views
  • #speakup #jktmelodicpunk #radioshow_tvone #melodic #punk
    #speakup #jktmelodicpunk #radioshow_tvone #melodic #punk
    Wow
    1
    0 Commentarii 0 Distribuiri 482 Views
  • #rockshow #metalshow #2025
    #rockshow #metalshow #2025
    LOUDWIRE.COM
    5 Rock + Metal Moments We're Thankful for in 2025
    This year really did have some great moments.
    0 Commentarii 0 Distribuiri 135 Views
  • #machinehead #show #australia
    #machinehead #show #australia
    WWW.METALSUCKS.NET
    Machine Head to Perform Three Australian Shows as Three-Piece
    Machine Head will play their first three Australian tour dates, starting tonight, as a three-piece, due to their fill-in guitarist's absence.
    0 Commentarii 0 Distribuiri 174 Views
  • **Lebih Keras dari Musiknya: Fenomena Podcast Live di Panggung Indonesia 2026**

    Ada pemandangan ganjil di sebuah ruang pertunjukan di kawasan Cikini malam ini. Tiket terjual habis. Ratusan anak muda berdesakan. Tapi tidak ada set drum, tidak ada tumpukan amplifier Marshall. Di tengah panggung, hanya ada sebuah meja kayu, dua kursi, dua mikrofon *Shure*, dan segelas kopi. (Sebuah ilustrasi saja)

    Selamat datang di era di mana "obrolan" menjadi *rockstar* baru. Tahun 2026 di Indonesia menandai puncak evolusi format audio: Podcast Musik Live. Ini bukan lagi sekadar file mp3 yang menemani Anda terjebak macet di tol JORR; ini adalah teater intelektual.

    **Gen Z: Menuntut Kekacauan Tanpa Edit**

    Bagi Gen Z, podcast yang direkam di studio dan diedit rapi sudah terasa "plastik". Mereka menginginkan darah, keringat, dan kesalahan bicara yang nyata. Tren *Live Podcast* di tahun 2026 didorong oleh dahaga akan spontanitas.

    Di acara malam ini, podcaster musik favorit mereka tidak hanya mengulas album baru; mereka berdebat sengit, saling memotong pembicaraan, dan bahkan melibatkan penonton untuk naik ke panggung melakukan "roasting" terhadap selera musik sang pembawa acara.

    Mengacu pada data *Spotify Culture Next Report 2025-2026*, Gen Z Indonesia menunjukkan pergeseran minat yang masif dari konsumsi pasif ke "partisipatif audio". Mereka tidak mau hanya mendengar; mereka mau menjadi bagian dari narasi. Di panggung live, tidak ada tombol "pause" atau "edit". Jika podcaster salah ngomong, itu menjadi momen emas. Inilah *reality show* yang intelektual. Ketidaksempurnaan adalah daya tarik utamanya.

    **Milenial: Nostalgia dan "Liner Notes" Berjalan**

    Di sisi lain, bagi Milenial yang kini semakin mapan, *Podcast Live* adalah bentuk *nongkrong* yang naik kelas. Mereka rela membayar harga tiket setara konser festival untuk duduk diam mendengarkan bedah lirik atau sejarah musik 90-an selama dua jam.

    Bagi generasi ini, podcast musik live berfungsi sebagai "Liner Notes" (catatan sampul album) yang hidup. Di era streaming di mana konteks musik sering hilang, podcast live mengembalikan kedalaman itu. Mereka datang untuk mendengar cerita di balik lagu, gosip industri yang tidak berani diungkap di rekaman digital, dan analisis mendalam yang memuaskan sisi *nerd* mereka.

    Menurut proyeksi *PwC Global Entertainment & Media Outlook*, segmen "Live Experience" untuk format non-musik (termasuk *spoken word*) di Asia Tenggara mengalami pertumbuhan dua digit tahun ini. Milenial Indonesia mencari koneksi komunitas yang fisik. Bertemu sesama pendengar podcast di dunia nyata memberikan rasa validasi suku (*tribal validation*) yang tidak bisa diberikan oleh kolom komentar Instagram.

    **Format Hibrida: Musisi Sebagai Tamu, Bukan Dewa**

    Yang menarik di tahun 2026 adalah kaburnya batas antara konser dan *talkshow*. Dalam acara podcast live ini, musisi seringkali hadir. Tapi mereka tidak datang untuk main *full set*. Mereka datang untuk diwawancara, lalu menyanyikan satu lagu akustik yang rapuh di sela-sela obrolan.

    Ini menciptakan intimasi yang mustahil terjadi di festival musik besar. Penonton melihat musisi sebagai manusia biasa yang bisa tertawa dan bercerita, bukan dewa di atas panggung yang jauh.

    **Kesimpulan**

    Fenomena ini membuktikan bahwa di tengah gempuran teknologi visual dan *metaverse*, kekuatan suara manusia masih tak tertandingi. Orang Indonesia, pada dasarnya, adalah bangsa yang gemar bercerita dan berkumpul (*communal storytelling*).

    Podcast musik live di tahun 2026 hanyalah bentuk modern dari tradisi "lesehan" atau "angkringan", namun dengan tiket masuk dan *sound system* yang lebih baik. Kita tidak lagi hanya ingin mendengarkan lagunya; kita ingin mendengarkan jiwanya, perdebatannya, dan manusianya. Dan malam ini di Cikini, suara tawa dan tepuk tangan penonton terdengar lebih keras daripada *bass* lagu rock mana pun.

    ***
    *Referensi & Sumber Data:*
    1. *Spotify Culture Next Report (Edisi Southeast Asia) - Tren perilaku audio Gen Z.*
    2. *PwC Global Entertainment & Media Outlook - Proyeksi pertumbuhan live events non-musik.*
    3. *Noice / Suara Podcaster Indonesia - Laporan lanskap kreator audio lokal.*
    **Lebih Keras dari Musiknya: Fenomena Podcast Live di Panggung Indonesia 2026** Ada pemandangan ganjil di sebuah ruang pertunjukan di kawasan Cikini malam ini. Tiket terjual habis. Ratusan anak muda berdesakan. Tapi tidak ada set drum, tidak ada tumpukan amplifier Marshall. Di tengah panggung, hanya ada sebuah meja kayu, dua kursi, dua mikrofon *Shure*, dan segelas kopi. (Sebuah ilustrasi saja) Selamat datang di era di mana "obrolan" menjadi *rockstar* baru. Tahun 2026 di Indonesia menandai puncak evolusi format audio: Podcast Musik Live. Ini bukan lagi sekadar file mp3 yang menemani Anda terjebak macet di tol JORR; ini adalah teater intelektual. **Gen Z: Menuntut Kekacauan Tanpa Edit** Bagi Gen Z, podcast yang direkam di studio dan diedit rapi sudah terasa "plastik". Mereka menginginkan darah, keringat, dan kesalahan bicara yang nyata. Tren *Live Podcast* di tahun 2026 didorong oleh dahaga akan spontanitas. Di acara malam ini, podcaster musik favorit mereka tidak hanya mengulas album baru; mereka berdebat sengit, saling memotong pembicaraan, dan bahkan melibatkan penonton untuk naik ke panggung melakukan "roasting" terhadap selera musik sang pembawa acara. Mengacu pada data *Spotify Culture Next Report 2025-2026*, Gen Z Indonesia menunjukkan pergeseran minat yang masif dari konsumsi pasif ke "partisipatif audio". Mereka tidak mau hanya mendengar; mereka mau menjadi bagian dari narasi. Di panggung live, tidak ada tombol "pause" atau "edit". Jika podcaster salah ngomong, itu menjadi momen emas. Inilah *reality show* yang intelektual. Ketidaksempurnaan adalah daya tarik utamanya. **Milenial: Nostalgia dan "Liner Notes" Berjalan** Di sisi lain, bagi Milenial yang kini semakin mapan, *Podcast Live* adalah bentuk *nongkrong* yang naik kelas. Mereka rela membayar harga tiket setara konser festival untuk duduk diam mendengarkan bedah lirik atau sejarah musik 90-an selama dua jam. Bagi generasi ini, podcast musik live berfungsi sebagai "Liner Notes" (catatan sampul album) yang hidup. Di era streaming di mana konteks musik sering hilang, podcast live mengembalikan kedalaman itu. Mereka datang untuk mendengar cerita di balik lagu, gosip industri yang tidak berani diungkap di rekaman digital, dan analisis mendalam yang memuaskan sisi *nerd* mereka. Menurut proyeksi *PwC Global Entertainment & Media Outlook*, segmen "Live Experience" untuk format non-musik (termasuk *spoken word*) di Asia Tenggara mengalami pertumbuhan dua digit tahun ini. Milenial Indonesia mencari koneksi komunitas yang fisik. Bertemu sesama pendengar podcast di dunia nyata memberikan rasa validasi suku (*tribal validation*) yang tidak bisa diberikan oleh kolom komentar Instagram. **Format Hibrida: Musisi Sebagai Tamu, Bukan Dewa** Yang menarik di tahun 2026 adalah kaburnya batas antara konser dan *talkshow*. Dalam acara podcast live ini, musisi seringkali hadir. Tapi mereka tidak datang untuk main *full set*. Mereka datang untuk diwawancara, lalu menyanyikan satu lagu akustik yang rapuh di sela-sela obrolan. Ini menciptakan intimasi yang mustahil terjadi di festival musik besar. Penonton melihat musisi sebagai manusia biasa yang bisa tertawa dan bercerita, bukan dewa di atas panggung yang jauh. **Kesimpulan** Fenomena ini membuktikan bahwa di tengah gempuran teknologi visual dan *metaverse*, kekuatan suara manusia masih tak tertandingi. Orang Indonesia, pada dasarnya, adalah bangsa yang gemar bercerita dan berkumpul (*communal storytelling*). Podcast musik live di tahun 2026 hanyalah bentuk modern dari tradisi "lesehan" atau "angkringan", namun dengan tiket masuk dan *sound system* yang lebih baik. Kita tidak lagi hanya ingin mendengarkan lagunya; kita ingin mendengarkan jiwanya, perdebatannya, dan manusianya. Dan malam ini di Cikini, suara tawa dan tepuk tangan penonton terdengar lebih keras daripada *bass* lagu rock mana pun. *** *Referensi & Sumber Data:* 1. *Spotify Culture Next Report (Edisi Southeast Asia) - Tren perilaku audio Gen Z.* 2. *PwC Global Entertainment & Media Outlook - Proyeksi pertumbuhan live events non-musik.* 3. *Noice / Suara Podcaster Indonesia - Laporan lanskap kreator audio lokal.*
    0 Commentarii 0 Distribuiri 853 Views
  • Beton, Algoritma, dan Ekspansi: Satu Dekade Hardcore Punk Indonesia (2014–2024)

    Satu dekade terakhir (2014–2024) adalah periode paling dinamis dalam sejarah Hardcore Punk Indonesia. Jika era sebelumnya didefinisikan oleh resistensi "bawah tanah" yang tertutup, dekade ini menandai era Profesionalisme D.I.Y (Do It Yourself) dan inklusivitas pasar. Etos mandiri tetap menjadi fondasi, namun skala bisnis, kualitas produksi, dan jangkauan audiens telah meledak menembus sekat-sekat mainstream.

    1. Poros Baru: "The East Java Invasion" dan Fenomena Greedy Dust
    Pergeseran paling radikal dalam 10 tahun terakhir adalah desentralisasi kekuatan. Jakarta dan Bandung tidak lagi memegang monopoli absolut. Jawa Timur, khususnya kota-kota lapis kedua seperti Blitar dan Kediri, muncul sebagai kekuatan ekonomi baru.

    Bukti paling valid adalah dominasi Greedy Dust, label independen asal Blitar. Sejak 2019, Greedy Dust mengubah lanskap industri dengan menggabungkan estetika Hardcore dengan strategi pemasaran streetwear modern. Data pasar menunjukkan rilisan merchandise dan fisik dari band roster mereka (seperti Iron Voltage, Dazzle, ZIP) kerap sold out dalam hitungan menit secara daring. Fenomena ini menciptakan standar baru di mana clothing dan visual menjadi ujung tombak ekonomi band, menarik demografi Gen Z yang sebelumnya asing dengan kultur Hardcore.

    2. Infiltrasi Festival: Gentrifikasi "Moshing"
    Satu dekade lalu, band Hardcore/Punk memiliki "tembok" pemisah yang tebal dengan festival musik populer. Tembok itu kini telah runtuh.

    Data line-up festival besar seperti Pestapora dan Synchronize Fest (2022-2024) menunjukkan integrasi yang masif. Band-band seperti The Jansen (Bogor), Straight Answer (Jakarta), hingga Total Jerk diberikan slot panggung utama dengan tata suara standar internasional. Kehadiran ribuan penonton yang melakukan moshing dan stage diving di festival berbayar mahal ini membuktikan bahwa Hardcore Punk telah mengalami ekspansi audiens ke kelas menengah urban.

    Kasus Dongker (Bandung) adalah contoh anomali sukses terbesar dekade ini. Dengan lagu "Bertaruh Pada Api", mereka berhasil menembus algoritma TikTok dan Spotify, membawa etos punk 70-an ke telinga pendengar pop umum tanpa kehilangan kredibilitas di komunitas.

    3. Konektivitas Global: Bandcamp dan Tur Mandiri
    Dalam hal distribusi, skena ini tidak bergantung pada label mayor. Penggunaan platform Bandcamp oleh band punk Indonesia adalah salah satu yang teraktif di Asia. Transaksi langsung (Direct-to-Fan) menggunakan mata uang asing menjadi hal lumrah.

    Secara performa tur, dekade ini mencatat lonjakan keberanian band lokal merambah luar negeri. Peach (Medan) sukses menjajal sirkuit Asia Tenggara, sementara Grrrl Gang dan Zigi Zaga berhasil menembus pasar Eropa dan tampil di showcase internasional seperti SXSW (South by Southwest). Ini membuktikan bahwa kualitas audio dan songwriting band punk lokal sudah setara standar global.

    4. Aktivisme dan Solidaritas
    Meski industri berkembang, "nyawa" politik Hardcore Punk tidak hilang. Keterlibatan aktif kolektif musik (seperti Grimloc Records) dalam advokasi kasus sengketa lahan Dago Elos di Bandung adalah bukti faktual. Panggung musik digunakan sebagai alat penggalangan dana (crowdfunding) yang transparan dan efektif untuk biaya hukum, membuktikan skena ini tetap kritis dan tidak terlena oleh kenyamanan industri.

    Kesimpulan
    Hardcore Punk Indonesia hari ini adalah ekosistem yang mandiri secara ekonomi dan percaya diri secara kultural. Dengan Jawa Timur sebagai poros trendsetter baru dan festival mainstream sebagai etalase, skena ini telah membuktikan bahwa prinsip D.I.Y bisa berjalan beriringan dengan manajemen profesional dan cuan yang sehat.

    Daftar Sumber Informasi Valid:

    Arsip Line-up Synchronize Fest & Pestapora (2022-2024): Data kehadiran band Hardcore/Punk di panggung utama.
    Whiteboard Journal & Vice Indonesia: Liputan mendalam (Deep Dive) mengenai fenomena label Greedy Dust dan pergerakan skena Jawa Timur.
    Spotify Official Statistics: Data viralitas lagu Dongker dan pertumbuhan monthly listeners band punk lokal.
    Bandcamp Editorial: Artikel yang menyoroti aktivitas skena Indonesia ("The diverse sounds of Indonesian Punk").
    Laporan Solidaritas Dago Elos: Dokumentasi publik mengenai keterlibatan musisi dalam penggalangan dana warga.
    Social Blade & Tour Schedules: Data jejak digital tur internasional band seperti Peach dan Grrrl Gang.
    Beton, Algoritma, dan Ekspansi: Satu Dekade Hardcore Punk Indonesia (2014–2024) Satu dekade terakhir (2014–2024) adalah periode paling dinamis dalam sejarah Hardcore Punk Indonesia. Jika era sebelumnya didefinisikan oleh resistensi "bawah tanah" yang tertutup, dekade ini menandai era Profesionalisme D.I.Y (Do It Yourself) dan inklusivitas pasar. Etos mandiri tetap menjadi fondasi, namun skala bisnis, kualitas produksi, dan jangkauan audiens telah meledak menembus sekat-sekat mainstream. 1. Poros Baru: "The East Java Invasion" dan Fenomena Greedy Dust Pergeseran paling radikal dalam 10 tahun terakhir adalah desentralisasi kekuatan. Jakarta dan Bandung tidak lagi memegang monopoli absolut. Jawa Timur, khususnya kota-kota lapis kedua seperti Blitar dan Kediri, muncul sebagai kekuatan ekonomi baru. Bukti paling valid adalah dominasi Greedy Dust, label independen asal Blitar. Sejak 2019, Greedy Dust mengubah lanskap industri dengan menggabungkan estetika Hardcore dengan strategi pemasaran streetwear modern. Data pasar menunjukkan rilisan merchandise dan fisik dari band roster mereka (seperti Iron Voltage, Dazzle, ZIP) kerap sold out dalam hitungan menit secara daring. Fenomena ini menciptakan standar baru di mana clothing dan visual menjadi ujung tombak ekonomi band, menarik demografi Gen Z yang sebelumnya asing dengan kultur Hardcore. 2. Infiltrasi Festival: Gentrifikasi "Moshing" Satu dekade lalu, band Hardcore/Punk memiliki "tembok" pemisah yang tebal dengan festival musik populer. Tembok itu kini telah runtuh. Data line-up festival besar seperti Pestapora dan Synchronize Fest (2022-2024) menunjukkan integrasi yang masif. Band-band seperti The Jansen (Bogor), Straight Answer (Jakarta), hingga Total Jerk diberikan slot panggung utama dengan tata suara standar internasional. Kehadiran ribuan penonton yang melakukan moshing dan stage diving di festival berbayar mahal ini membuktikan bahwa Hardcore Punk telah mengalami ekspansi audiens ke kelas menengah urban. Kasus Dongker (Bandung) adalah contoh anomali sukses terbesar dekade ini. Dengan lagu "Bertaruh Pada Api", mereka berhasil menembus algoritma TikTok dan Spotify, membawa etos punk 70-an ke telinga pendengar pop umum tanpa kehilangan kredibilitas di komunitas. 3. Konektivitas Global: Bandcamp dan Tur Mandiri Dalam hal distribusi, skena ini tidak bergantung pada label mayor. Penggunaan platform Bandcamp oleh band punk Indonesia adalah salah satu yang teraktif di Asia. Transaksi langsung (Direct-to-Fan) menggunakan mata uang asing menjadi hal lumrah. Secara performa tur, dekade ini mencatat lonjakan keberanian band lokal merambah luar negeri. Peach (Medan) sukses menjajal sirkuit Asia Tenggara, sementara Grrrl Gang dan Zigi Zaga berhasil menembus pasar Eropa dan tampil di showcase internasional seperti SXSW (South by Southwest). Ini membuktikan bahwa kualitas audio dan songwriting band punk lokal sudah setara standar global. 4. Aktivisme dan Solidaritas Meski industri berkembang, "nyawa" politik Hardcore Punk tidak hilang. Keterlibatan aktif kolektif musik (seperti Grimloc Records) dalam advokasi kasus sengketa lahan Dago Elos di Bandung adalah bukti faktual. Panggung musik digunakan sebagai alat penggalangan dana (crowdfunding) yang transparan dan efektif untuk biaya hukum, membuktikan skena ini tetap kritis dan tidak terlena oleh kenyamanan industri. Kesimpulan Hardcore Punk Indonesia hari ini adalah ekosistem yang mandiri secara ekonomi dan percaya diri secara kultural. Dengan Jawa Timur sebagai poros trendsetter baru dan festival mainstream sebagai etalase, skena ini telah membuktikan bahwa prinsip D.I.Y bisa berjalan beriringan dengan manajemen profesional dan cuan yang sehat. Daftar Sumber Informasi Valid: Arsip Line-up Synchronize Fest & Pestapora (2022-2024): Data kehadiran band Hardcore/Punk di panggung utama. Whiteboard Journal & Vice Indonesia: Liputan mendalam (Deep Dive) mengenai fenomena label Greedy Dust dan pergerakan skena Jawa Timur. Spotify Official Statistics: Data viralitas lagu Dongker dan pertumbuhan monthly listeners band punk lokal. Bandcamp Editorial: Artikel yang menyoroti aktivitas skena Indonesia ("The diverse sounds of Indonesian Punk"). Laporan Solidaritas Dago Elos: Dokumentasi publik mengenai keterlibatan musisi dalam penggalangan dana warga. Social Blade & Tour Schedules: Data jejak digital tur internasional band seperti Peach dan Grrrl Gang.
    Like
    Wow
    2
    0 Commentarii 0 Distribuiri 375 Views
MusiXzen https://musixzen.com