• #comebackkid #hardcore #wakethedead #jakarta #2026
    #comebackkid #hardcore #wakethedead #jakarta #2026
    WWW.INSTAGRAM.COM
    Consumed Media on Instagram: "[EVENT] ‘Wake the Dead’, salah satu album esensial yang keluar medio tahun 2000-an dan berpengaruh buat gelombang hardcore modern oleh @comebackkid_hc sudah berusia dua dekade dan kini unit asal Kanada tersebut bakal ajak penggemar di Jakarta merayakannya bersama. Diinisiasi oleh Ageless Galaxy (@aglxyco) dan @theswillhouse, helatannya bakal digelar pada 27 Januari di Zoo SCBD, Jakarta. Konser ini juga nantinya akan diramaikan dengan beberapa local acts yang tak kalah menarik, diantaranya: @outragehc, @moderngunshc, @aloneatlast dan @finalattackjhc. Buat informasi tiketnya sudah bisa diakses via tiket.com. Lebih lengkapnya kunjungi laman Ageless Galaxy dan The Swill House sekarang juga! Photo credits: @mikecaseyphoto - #ConsumedMedia #ConsumedMagazine"
    consumed_media on December 15, 2025: "[EVENT] ‘Wake the Dead’, salah satu album esensial yang keluar medio tahun 2000-an dan berpengaruh buat gelombang hardcore modern oleh @comebackkid_hc sudah berusia dua dekade dan kini unit asal Kanada tersebut bakal ajak penggemar di Jakarta merayakannya bersama. Diinisiasi oleh Ageless Galaxy (@aglxyco) dan @theswillhouse, helatannya bakal digelar pada 27 Januari di Zoo SCBD, Jakarta. Konser ini juga nantinya akan diramaikan dengan beberapa local acts yang tak kalah menarik, diantaranya: @outragehc, @moderngunshc, @aloneatlast dan @finalattackjhc. Buat informasi tiketnya sudah bisa diakses via tiket.com. Lebih lengkapnya kunjungi laman Ageless Galaxy dan The Swill House sekarang juga! Photo credits: @mikecaseyphoto - #ConsumedMedia #ConsumedMagazine".
    Like
    1
    0 Comments 0 Shares 454 Views
  • #gorillabiscuits #harkor #hardcorerules
    #gorillabiscuits #harkor #hardcorerules
    0 Comments 0 Shares 330 Views
  • - Tahun 1990‑an, dengan masuknya musik punk/hardcore internasional, generasi muda Indonesia mulai membuat band sendiri, merilis demo secara DIY, membuat fanzine (majalah fotokopi), serta membangun komunitas underground — di Jakarta, Bandung, dan kota‑kota lain. [4]
    - Punk bukan hanya musik — tapi juga bagian dari gerakan protes budaya/politik. Di masa menuju dan setelah keruntuhan rezim otoriter era Suharto, banyak punker yang mengekspresikan ketidakpuasan lewat lirik, aksi DIY, dan solidaritas underground. [5]

    Ciri khas: DIY, anti komersial, dan kolektivitas
    - Karena industri musik mainstream sulit dijangkau — dan punk sering dianggap kontroversial — komunitas punk Indonesia memilih jalur DIY: rekaman sendiri, cetak zine sendiri, gelar gig kecil/kota, barter kaset, tukar info lewat mulut ke mulut. Ini membuat street‑punk / punk underground punya nuansa otentik dan independen. [1]
    - Dari Sabang sampai Merauke, skena punk berkembang regional: tiap kota bisa punya panggung/punk house sendiri, komunitasnya sendiri, dan gaya lokal-nya sendiri. Itu membuat punk Indonesia bukan sekedar “kopi budaya Barat” — tapi adaptasi yang melebur dengan konteks lokal. [6]

    Street‑punk / punk sekarang: terus hidup meskipun tantangan
    Meski mainstream kadang menolak, penggemar punk tetap eksis. Bahkan hingga dekade 2000‑an, kancah underground terus merilis album/EP/kompilasi secara independen, dengan lirik yang sering kritis sosial/ politik — sebagai suara alternatif di luar arus pop komersial. [4]
    - Punk Indonesia pun berevolusi — tak melulu soal gitar cepat & teriakan, tapi juga musik berdansa, kolaborasi, integrasi lintas genre. Meski begitu, akar independen & kritik sosial tetap dipertahankan. [4]

    ---

    sejarah musik street punk / punk–underground di Indonesia:

    Sejarah musik street‑punk di Indonesia sesungguhnya bagian dari cerita lebih luas: lahirnya skena punk + hardcore dalam konteks perubahan sosial dan politik negeri. Walau istilah “street punk” (atau “Oi!/punk jalanan”) tak selalu dipakai secara eksplisit, semangatnya — DIY, vokal keras, lirik tentang kelas pekerja, ketidakadilan, perlawanan — jelas tumbuh sejak gelombang pertama punk lokal. [1]

    Awal dan akar punk di Indonesia
    - Punk datang ke Indonesia lewat cassette / tape / CD bajakan dari Barat — tapi tak langsung melejit. Hingga akhir 1980‑an dan awal 1990‑an, punk di Indonesia masih tersebar tipis, dan kebanyakan remaja mengenal rock…
    Kutipan:
    1. jeremywallach.com: www.jeremywallach.com/wp-content/uploads/2008/09/Living%20the%20Punk%20Lifestyle%20i.pdf?utm_source=chatgpt.com
    2. VICE: www.vice.com/en/article/uncovering-origins-punk-rock-indonesia-history/?utm_source=chatgpt.com
    3. VICE: www.vice.com/id/article/melacak-jejak-punk-masuk-ke-indonesia/?utm_source=chatgpt.com
    4. Bandcamp Daily: daily.bandcamp.com/scene-report/indonesian-punk-diy-guide?utm_source=chatgpt.com
    5. The Anarchist Library: theanarchistlibrary.org/library/kevin-dunn-one-punk-s-travel-guide-to-indonesia?utm_source=chatgpt.com
    6. SciSpace: scispace.com/pdf/punk-and-the-city-a-history-of-punk-in-bandung-272wtvsg6m.pdf?utm_source=chatgpt.com
    - Tahun 1990‑an, dengan masuknya musik punk/hardcore internasional, generasi muda Indonesia mulai membuat band sendiri, merilis demo secara DIY, membuat fanzine (majalah fotokopi), serta membangun komunitas underground — di Jakarta, Bandung, dan kota‑kota lain. [4] - Punk bukan hanya musik — tapi juga bagian dari gerakan protes budaya/politik. Di masa menuju dan setelah keruntuhan rezim otoriter era Suharto, banyak punker yang mengekspresikan ketidakpuasan lewat lirik, aksi DIY, dan solidaritas underground. [5] 🛠️ Ciri khas: DIY, anti komersial, dan kolektivitas - Karena industri musik mainstream sulit dijangkau — dan punk sering dianggap kontroversial — komunitas punk Indonesia memilih jalur DIY: rekaman sendiri, cetak zine sendiri, gelar gig kecil/kota, barter kaset, tukar info lewat mulut ke mulut. Ini membuat street‑punk / punk underground punya nuansa otentik dan independen. [1] - Dari Sabang sampai Merauke, skena punk berkembang regional: tiap kota bisa punya panggung/punk house sendiri, komunitasnya sendiri, dan gaya lokal-nya sendiri. Itu membuat punk Indonesia bukan sekedar “kopi budaya Barat” — tapi adaptasi yang melebur dengan konteks lokal. [6] 📌 Street‑punk / punk sekarang: terus hidup meskipun tantangan Meski mainstream kadang menolak, penggemar punk tetap eksis. Bahkan hingga dekade 2000‑an, kancah underground terus merilis album/EP/kompilasi secara independen, dengan lirik yang sering kritis sosial/ politik — sebagai suara alternatif di luar arus pop komersial. [4] - Punk Indonesia pun berevolusi — tak melulu soal gitar cepat & teriakan, tapi juga musik berdansa, kolaborasi, integrasi lintas genre. Meski begitu, akar independen & kritik sosial tetap dipertahankan. [4] --- sejarah musik street punk / punk–underground di Indonesia: Sejarah musik street‑punk di Indonesia sesungguhnya bagian dari cerita lebih luas: lahirnya skena punk + hardcore dalam konteks perubahan sosial dan politik negeri. Walau istilah “street punk” (atau “Oi!/punk jalanan”) tak selalu dipakai secara eksplisit, semangatnya — DIY, vokal keras, lirik tentang kelas pekerja, ketidakadilan, perlawanan — jelas tumbuh sejak gelombang pertama punk lokal. [1] 🎯 Awal dan akar punk di Indonesia - Punk datang ke Indonesia lewat cassette / tape / CD bajakan dari Barat — tapi tak langsung melejit. Hingga akhir 1980‑an dan awal 1990‑an, punk di Indonesia masih tersebar tipis, dan kebanyakan remaja mengenal rock… Kutipan: 1. jeremywallach.com: www.jeremywallach.com/wp-content/uploads/2008/09/Living%20the%20Punk%20Lifestyle%20i.pdf?utm_source=chatgpt.com 2. VICE: www.vice.com/en/article/uncovering-origins-punk-rock-indonesia-history/?utm_source=chatgpt.com 3. VICE: www.vice.com/id/article/melacak-jejak-punk-masuk-ke-indonesia/?utm_source=chatgpt.com 4. Bandcamp Daily: daily.bandcamp.com/scene-report/indonesian-punk-diy-guide?utm_source=chatgpt.com 5. The Anarchist Library: theanarchistlibrary.org/library/kevin-dunn-one-punk-s-travel-guide-to-indonesia?utm_source=chatgpt.com 6. SciSpace: scispace.com/pdf/punk-and-the-city-a-history-of-punk-in-bandung-272wtvsg6m.pdf?utm_source=chatgpt.com
    Like
    1
    0 Comments 0 Shares 909 Views
  • Emo punk lahir di pertengahan 1980-an dari rahim hardcore punk Washington D.C. Band seperti Rites of Spring dan Embrace (proyek Ian MacKaye pasca-Minor Threat) mulai memasukkan emosi personal, lirik introspektif, dan dinamika musik yang lebih ekspresif ke dalam hardcore. Ini dikenal sebagai "emocore", meski banyak pelopornya justru menolak label itu.

    Masuk 1990-an, emo berevolusi jadi lebih melodius lewat band seperti Sunny Day Real Estate, Jawbreaker, dan Texas Is the Reason. Lalu di awal 2000-an, emo meledak ke arus utama dengan band seperti My Chemical Romance, Dashboard Confessional, dan Fall Out Boy, memadukan estetika punk dengan pengaruh pop, post-hardcore, dan fashion gelap-melodramatis.

    Meski sering disalahpahami sebagai gaya rambut atau tren remaja, emo punk sejatinya adalah lanjutan dari semangat DIY dan ekspresi mentah punk.

    Album penting:
    - Rites of Spring – Rites of Spring
    - Diary – Sunny Day Real Estate
    - Dear You – Jawbreaker
    - The Black Parade – My Chemical Romance

    Sumber kredibel:
    - Nothing Feels Good – Andy Greenwald
    - Pitchfork
    - NoEcho.net
    - AllMusic
    Emo punk lahir di pertengahan 1980-an dari rahim hardcore punk Washington D.C. Band seperti Rites of Spring dan Embrace (proyek Ian MacKaye pasca-Minor Threat) mulai memasukkan emosi personal, lirik introspektif, dan dinamika musik yang lebih ekspresif ke dalam hardcore. Ini dikenal sebagai "emocore", meski banyak pelopornya justru menolak label itu. Masuk 1990-an, emo berevolusi jadi lebih melodius lewat band seperti Sunny Day Real Estate, Jawbreaker, dan Texas Is the Reason. Lalu di awal 2000-an, emo meledak ke arus utama dengan band seperti My Chemical Romance, Dashboard Confessional, dan Fall Out Boy, memadukan estetika punk dengan pengaruh pop, post-hardcore, dan fashion gelap-melodramatis. Meski sering disalahpahami sebagai gaya rambut atau tren remaja, emo punk sejatinya adalah lanjutan dari semangat DIY dan ekspresi mentah punk. Album penting: - Rites of Spring – Rites of Spring - Diary – Sunny Day Real Estate - Dear You – Jawbreaker - The Black Parade – My Chemical Romance Sumber kredibel: - Nothing Feels Good – Andy Greenwald - Pitchfork - NoEcho.net - AllMusic
    Like
    Wow
    2
    0 Comments 0 Shares 405 Views
  • Straight edge lahir dari jantung skena hardcore punk Washington D.C. awal 1980-an. Saat mayoritas punk identik dengan pesta dan kehancuran diri, band Minor Threat malah meneriakkan kebalikan: hidup tanpa alkohol, narkoba, rokok, dan seks bebas. Lagu mereka berjudul "Straight Edge" jadi manifesto tak resmi gerakan ini. Bagi banyak anak muda, ini bukan cuma gaya hidup, tapi bentuk perlawanan terhadap budaya konsumtif dan autodestruktif.

    Gerakan ini berkembang cepat, terutama lewat band-band seperti Youth of Today, Gorilla Biscuits, dan Judge di era 1980-an New York hardcore. Muncul pula varian lebih militan seperti hardline dan vegan straight edge di 90-an. Meski kadang kontroversial karena sikap keras, straight edge tetap jadi bagian penting sejarah punk: bukti bahwa pemberontakan bisa juga berbentuk kontrol diri, bukan kekacauan.

    Album penting:
    - Minor Threat EP – Minor Threat
    - Break Down the Walls – Youth of Today
    - We're Not in This Alone – Youth of Today
    - Bringin' It Down – Judge

    Sumber valid:
    - "American Hardcore" – Steven Blush
    - PunkNews.org
    - LouderSound.com
    - Documentary "Salad Days" (2014)
    Straight edge lahir dari jantung skena hardcore punk Washington D.C. awal 1980-an. Saat mayoritas punk identik dengan pesta dan kehancuran diri, band Minor Threat malah meneriakkan kebalikan: hidup tanpa alkohol, narkoba, rokok, dan seks bebas. Lagu mereka berjudul "Straight Edge" jadi manifesto tak resmi gerakan ini. Bagi banyak anak muda, ini bukan cuma gaya hidup, tapi bentuk perlawanan terhadap budaya konsumtif dan autodestruktif. Gerakan ini berkembang cepat, terutama lewat band-band seperti Youth of Today, Gorilla Biscuits, dan Judge di era 1980-an New York hardcore. Muncul pula varian lebih militan seperti hardline dan vegan straight edge di 90-an. Meski kadang kontroversial karena sikap keras, straight edge tetap jadi bagian penting sejarah punk: bukti bahwa pemberontakan bisa juga berbentuk kontrol diri, bukan kekacauan. Album penting: - Minor Threat EP – Minor Threat - Break Down the Walls – Youth of Today - We're Not in This Alone – Youth of Today - Bringin' It Down – Judge Sumber valid: - "American Hardcore" – Steven Blush - PunkNews.org - LouderSound.com - Documentary "Salad Days" (2014)
    Like
    Wow
    2
    0 Comments 0 Shares 276 Views
  • Hardcore punk lahir akhir 1970-an di AS sebagai reaksi terhadap punk rock yang dianggap mulai melempem dan komersial. Anak-anak muda dari kota seperti Los Angeles (Black Flag), Washington DC (Minor Threat, Bad Brains), dan New York (Agnostic Front) memotong segala basa-basi musik: tempo makin cepat, riff makin tajam, dan durasi lagu kadang cuma 1 menit. Tapi esensinya tetap: DIY, perlawanan, dan ekspresi marah terhadap sistem.

    Di DC, muncul gerakan straight edge lewat Minor Threat — menolak alkohol, narkoba, dan konsumerisme. Sementara di NY, hardcore tumbuh jadi lebih keras dan terpengaruh metal, melahirkan crossover thrash. Hardcore juga menyebar global: Discharge di Inggris, Gauze di Jepang, Cólera di Brasil.

    Hardcore bukan sekadar genre, tapi kultur: gig kecil, zine fotokopian, moshing, dan solidaritas.

    Album penting:
    - Damaged – Black Flag
    - Out of Step – Minor Threat
    - Age of Quarrel – Cro-Mags
    - Start Today – Gorilla Biscuits

    Sumber valid:
    - American Hardcore – Steven Blush
    - Punknews.org
    - LouderThanWar
    - Dokumenter “American Hardcore” (2006)
    Hardcore punk lahir akhir 1970-an di AS sebagai reaksi terhadap punk rock yang dianggap mulai melempem dan komersial. Anak-anak muda dari kota seperti Los Angeles (Black Flag), Washington DC (Minor Threat, Bad Brains), dan New York (Agnostic Front) memotong segala basa-basi musik: tempo makin cepat, riff makin tajam, dan durasi lagu kadang cuma 1 menit. Tapi esensinya tetap: DIY, perlawanan, dan ekspresi marah terhadap sistem. Di DC, muncul gerakan straight edge lewat Minor Threat — menolak alkohol, narkoba, dan konsumerisme. Sementara di NY, hardcore tumbuh jadi lebih keras dan terpengaruh metal, melahirkan crossover thrash. Hardcore juga menyebar global: Discharge di Inggris, Gauze di Jepang, Cólera di Brasil. Hardcore bukan sekadar genre, tapi kultur: gig kecil, zine fotokopian, moshing, dan solidaritas. Album penting: - Damaged – Black Flag - Out of Step – Minor Threat - Age of Quarrel – Cro-Mags - Start Today – Gorilla Biscuits Sumber valid: - American Hardcore – Steven Blush - Punknews.org - LouderThanWar - Dokumenter “American Hardcore” (2006)
    Like
    Wow
    2
    0 Comments 0 Shares 376 Views
  • Melodic punk muncul sebagai respons dari skena punk hardcore yang terlalu mentah dan agresif. Di akhir 1980-an dan awal 90-an, band seperti Bad Religion dan Descendents mulai menulis lagu dengan struktur yang lebih melodis tanpa kehilangan energi punk. Dari sanalah lahir fondasi melodic hardcore dan pop-punk, dua wajah dari satu koin yang sama: cepat, keras, tapi punya melodi catchy dan lirik yang relatable.

    Epitaph Records (milik gitaris Bad Religion) jadi pusat ledakan genre ini, terutama lewat NOFX, Pennywise, dan Rancid. Lalu datanglah Green Day dan The Offspring yang meledak secara global di pertengahan '90-an, membawa melodic punk ke radio, TV, dan generasi baru. Di luar AS, band seperti Millencolin (Swedia) dan Hi-Standard (Jepang) ikut mengembangkan genre ini.

    Album penting:
    - Suffer – Bad Religion
    - Smash – The Offspring
    - Dookie – Green Day
    - …And Out Come the Wolves – Rancid

    Sumber kredibel:
    - "Do What You Want: The Story of Bad Religion"
    - Punknews.org
    - LouderSound.com
    - Dokumenter “Punk” (FX, 2019)
    - AllMusic.com
    Melodic punk muncul sebagai respons dari skena punk hardcore yang terlalu mentah dan agresif. Di akhir 1980-an dan awal 90-an, band seperti Bad Religion dan Descendents mulai menulis lagu dengan struktur yang lebih melodis tanpa kehilangan energi punk. Dari sanalah lahir fondasi melodic hardcore dan pop-punk, dua wajah dari satu koin yang sama: cepat, keras, tapi punya melodi catchy dan lirik yang relatable. Epitaph Records (milik gitaris Bad Religion) jadi pusat ledakan genre ini, terutama lewat NOFX, Pennywise, dan Rancid. Lalu datanglah Green Day dan The Offspring yang meledak secara global di pertengahan '90-an, membawa melodic punk ke radio, TV, dan generasi baru. Di luar AS, band seperti Millencolin (Swedia) dan Hi-Standard (Jepang) ikut mengembangkan genre ini. Album penting: - Suffer – Bad Religion - Smash – The Offspring - Dookie – Green Day - …And Out Come the Wolves – Rancid Sumber kredibel: - "Do What You Want: The Story of Bad Religion" - Punknews.org - LouderSound.com - Dokumenter “Punk” (FX, 2019) - AllMusic.com
    Like
    Wow
    2
    0 Comments 0 Shares 407 Views
  • D-beat lahir dari semangat keras dan mentah punk Inggris akhir 1970-an. Nama “D-beat” sendiri diambil dari Discharge, band legendaris yang mempopulerkan pola drum cepat dan patah-patah — dug-dug-cek, dug-dug-cek — yang kini jadi ciri khas genre ini. Dengan lirik anti-perang, distorsi tebal, dan tempo brutal, D-beat jadi bentuk ekstrem dari punk yang lebih dekat ke hardcore dan kadang nyaris ke metal. Dari Inggris, pengaruhnya menyebar ke Swedia (Anti-Cimex, Disfear), Jepang (Disclose, Framtid), dan Amerika (Dropdead, Tragedy), melahirkan subgenre crust punk — versi D-beat yang lebih gelap, noise-heavy, dan politis. Crust banyak bicara soal ketidakadilan sosial, ekologis, dan anti-fasisme.

    Album penting:
    - Hear Nothing See Nothing Say Nothing – Discharge
    - Scandinavian Jawbreaker – Anti-Cimex
    - Tragedy – Tragedy
    - The Demos – Disclose

    Sumber valid:
    - Ian Glasper – "The Day the Country Died"
    - PunkNews.org
    - NoEcho.net
    - Discogs archives
    - Dokumenter "Punk: Attitude" (Don Letts)
    D-beat lahir dari semangat keras dan mentah punk Inggris akhir 1970-an. Nama “D-beat” sendiri diambil dari Discharge, band legendaris yang mempopulerkan pola drum cepat dan patah-patah — dug-dug-cek, dug-dug-cek — yang kini jadi ciri khas genre ini. Dengan lirik anti-perang, distorsi tebal, dan tempo brutal, D-beat jadi bentuk ekstrem dari punk yang lebih dekat ke hardcore dan kadang nyaris ke metal. Dari Inggris, pengaruhnya menyebar ke Swedia (Anti-Cimex, Disfear), Jepang (Disclose, Framtid), dan Amerika (Dropdead, Tragedy), melahirkan subgenre crust punk — versi D-beat yang lebih gelap, noise-heavy, dan politis. Crust banyak bicara soal ketidakadilan sosial, ekologis, dan anti-fasisme. Album penting: - Hear Nothing See Nothing Say Nothing – Discharge - Scandinavian Jawbreaker – Anti-Cimex - Tragedy – Tragedy - The Demos – Disclose Sumber valid: - Ian Glasper – "The Day the Country Died" - PunkNews.org - NoEcho.net - Discogs archives - Dokumenter "Punk: Attitude" (Don Letts)
    Wow
    1
    0 Comments 0 Shares 389 Views
  • #510 #bdg #posthardcore
    #510 #bdg #posthardcore
    0 Comments 0 Shares 299 Views
  • #20mostpopularhardcorebands #intheworld #2025
    #20mostpopularhardcorebands #intheworld #2025
    WWW.THEMETALVERSE.NET
    The 20 Most Popular Hardcore Bands in the World: 2025
    Hardcore has grown to new heights in recent years. Here are the 20 most popular hardcore bands in the world right now.
    0 Comments 0 Shares 225 Views
  • #hxcxwxw #tigerleech #metal #harkor #hardcore
    #hxcxwxw #tigerleech #metal #harkor #hardcore
    Like
    1
    0 Comments 0 Shares 294 Views
  • "Mall-Venue": Gentrifikasi Ruang Ritel Mati*

    Pusat perbelanjaan (Mall) di Jakarta dan Surabaya banyak yang sepi penyewa ritel akibat e-commerce. Menuju 2026, ruang kosong bekas department store ini disulap menjadi Live House atau venue musik.

    Ini solusi win-win. Mall butuh traffic anak muda, musisi butuh tempat ber-AC yang parkirnya luas dan akses transportasi umumnya gampang. Konser hardcore di bekas toko baju lantai 3 Plaza Blok M bukan lagi anomali, tapi norma baru. Akustiknya mungkin perlu peredam ekstra, tapi kenyamanan akses membuat "Mall Gigs" menjadi tren urban yang tak terelakkan.
    "Mall-Venue": Gentrifikasi Ruang Ritel Mati* Pusat perbelanjaan (Mall) di Jakarta dan Surabaya banyak yang sepi penyewa ritel akibat e-commerce. Menuju 2026, ruang kosong bekas department store ini disulap menjadi Live House atau venue musik. Ini solusi win-win. Mall butuh traffic anak muda, musisi butuh tempat ber-AC yang parkirnya luas dan akses transportasi umumnya gampang. Konser hardcore di bekas toko baju lantai 3 Plaza Blok M bukan lagi anomali, tapi norma baru. Akustiknya mungkin perlu peredam ekstra, tapi kenyamanan akses membuat "Mall Gigs" menjadi tren urban yang tak terelakkan.
    0 Comments 0 Shares 408 Views
More Results
MusiXzen https://musixzen.com